DI SUDUT Jalan AM Sangaji, Kelurahan Baru, sebuah pintu terbuka tanpa banyak tanya. Di situlah Masjid Jami’ KH Muhammad Sadjid berdiri, bukan sekadar sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai rumah singgah yang ramah bagi mereka yang lelah dalam perjalanan.
Seorang musafir dengan tas di pundak bisa datang menjelang Maghrib. Seorang dai dari luar kota mengetuk pintu selepas Isya. Bahkan warga yang tak dikenal sekalipun dapat bertanya lirih, adakah tempat untuk bermalam. Jawabannya, selama memenuhi syarat, hampir selalu sama, ada.
Transformasi itu bermula pada 2023. Kebutuhan akan tempat singgah bagi musafir dan duafa kerap terdengar dalam percakapan pengurus masjid. Tenggarong sebagai ibu kota Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi simpul pergerakan orang pendakwah, pekerja, pelajar, hingga pelintas kota.
Rudy Indra Winarto, salah satu pengurus yayasan masjid, mengisahkan bagaimana gagasan tersebut lahir dari keprihatinan sederhana. Di lantai atas masjid, terdapat ruang Sekretariat Yayasan dan Ikatan Remaja Masjid (IRMA) yang kala itu terpisah.
“Awalnya di atas itu Sekretariat IRMA yang kami fungsikan jadi kamar musafir. Sekarang sekretariat IRMA bergabung dengan yayasan,” ujarnya.
Ruang yang semula administratif disulap menjadi tiga kamar. Satu kamar berpendingin udara dikhususkan bagi penceramah atau ustaz yang mengisi kajian. Dua kamar lainnya lebih sederhana tanpa AC, namun tetap layak untuk beristirahat. Tempat tidur bersih, air minum, kopi, dan teh tersedia. Toilet khusus di lantai atas memudahkan tamu tanpa harus turun naik tangga untuk mandi atau buang air.
Bagi musafir, fasilitas itu mungkin tak sebanding hotel. Namun bagi yang menempuh perjalanan panjang dengan ongkos terbatas, ruang sederhana itu menjadi kemewahan tersendiri.
“Fasilitasnya tidak selengkap hotel, tapi cukup untuk memulihkan lelah perjalanan,” kata Rudy.
Keramahan di masjid ini tidak berjalan tanpa sistem. Pengurus menerapkan tata kelola yang rapi. Data tamu dicatat melalui buku tamu berbasis barcode yang tersimpan di laptop. Identitas wajib ditunjukkan. Masa tinggal maksimal tiga hari.
Rata-rata 10 hingga 15 musafir menginap setiap bulan. Selepas azan Subuh, sebagian melanjutkan perjalanan. Ada yang berpamitan dengan doa. Ada pula yang meninggalkan pesan terima kasih.
Namun keterbukaan itu tetap disertai kehati-hatian.
“Soalnya kami juga tidak berani terima asal terima. Takutnya buronan atau apa. Itu yang kami hindari,” ujar Rudy.
Bagi pengurus, menjaga keamanan jamaah sama pentingnya dengan melayani musafir. Humanisme dan kehati-hatian berjalan berdampingan.
Program kamar musafir ini tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari kolaborasi. Donasi jamaah menjadi fondasi awal. Dukungan melalui media sosial memperluas gaungnya. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara turut memberi kontribusi pada masa kepemimpinan Bupati Edi Damansyah.
Sejumlah fasilitas seperti kursi dan televisi merupakan hibah pemerintah daerah. Kolaborasi itu membentuk ekosistem yang saling menguatkan: masyarakat memberi kepercayaan, pengurus menjaga amanah, pemerintah memperkuat sarana.
Menurut Rudy, masjid ini menjadi yang pertama di Kukar yang menyediakan kamar singgah khusus musafir. Inovasi tersebut membawa nama Masjid Jami’ KH Muhammad Sadjid melangkah ke panggung nasional.
Pada 2024, masjid ini dinobatkan sebagai Masjid Ramah Duafa dan Musafir Terbaik tingkat nasional dalam ajang Anugerah Masjid Percontohan dan Ramah (AMPeRa). Masjid bercorak putih dengan lis biru itu unggul atas sejumlah nominasi dari berbagai provinsi, termasuk Yogyakarta dan Aceh.
Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol prestasi. Ia berdampak nyata. Arus tamu meningkat. Hampir setiap pekan ada yang datang untuk bermalam atau sekadar melihat langsung bagaimana konsep masjid ramah itu diterapkan.
Namun regulasi Dewan Masjid Indonesia membatasi masjid peraih nominasi agar tidak kembali mengikuti kategori yang sama. Bagi pengurus, pembatasan itu justru menjadi ruang refleksi.
Fokus kini bergeser: berbagi praktik baik dan mendampingi masjid lain agar mampu menghadirkan pelayanan serupa. Bagi mereka, keberhasilan sejati bukan hanya pada penghargaan, tetapi pada lahirnya gerakan bersama.

Humanisme sebagai Napas
Salah satu aspek yang paling mencolok adalah keterbukaan lintas latar belakang. Musafir tidak ditanya asal organisasi, afiliasi, atau status sosial. Bahkan nonmuslim yang membutuhkan tempat singgah tetap dilayani selama memenuhi aturan. Prinsipnya sederhana: datang, lapor, penuhi syarat, dan pintu dibuka.
Di tengah kota yang terus berkembang, ruang publik gratis semakin langka. Hotel dan penginapan berdiri dengan tarif masing-masing. Di antara pilihan itu, masjid ini menghadirkan alternatif berbasis solidaritas.
Keramahan di sini bukan basa-basi. Ia diterjemahkan dalam kebijakan nyata, dalam kamar yang dirapikan setiap hari, dalam secangkir kopi hangat, dalam catatan data yang tersimpan rapi.
Lebih dari Kubah dan Menara
Cerita tentang masjid ini melampaui arsitektur. Ia bukan tentang kubah tinggi atau ornamen megah. Ia tentang fungsi sosial yang dihidupkan kembali.
Di masa Rasulullah, masjid menjadi pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, bahkan tempat perlindungan bagi musafir. Nilai historis itu seolah menemukan bentuk kontekstualnya di tepian Mahakam.
Masjid Jami’ KH Muhammad Sadjid menunjukkan bahwa kemuliaan rumah ibadah tak hanya diukur dari fisik bangunan, melainkan dari sejauh mana ia membuka pintu bagi yang membutuhkan.
Ketika malam semakin larut dan lampu-lampu kota meredup, mungkin ada seorang musafir yang terlelap di salah satu kamar lantai atas. Di bawahnya, ruang utama masjid tetap sunyi dan khusyuk. Dan di antara keduanya, terjalin makna: bahwa ibadah bukan hanya soal hubungan vertikal kepada Tuhan, tetapi juga tentang kehangatan horizontal kepada sesama.
Di tepian Sungai Mahakam, sebuah masjid telah membuktikan bahwa keramahan bisa menjadi bentuk ibadah sosial yang paling nyata. (Tim MK)





