Menelusuri Jejak Peradaban Aji Galeng Bersama Bambang Arwanto, Sang Penulis Buku

SAMARINDA – Di sebuah ruangan kerjanya sebagai Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto duduk menerima tamu dari para jurnalis Samarinda sambil menunjukkan sebuah buku yang telah ia tulis.

Di dalamnya tersimpan kisah yang nyaris tenggelam oleh zaman kisah tentang Aji Galeng, panglima penjaga negeri dari Paser Utara, tokoh yang berabad-abad lalu menegakkan marwah peradaban di tanah yang kini dikenal sebagai Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kedatangan beberapa jurnalis memang sengaja ingin mengupas buku tersebut, dan bertanya apa alasan Beliau menulis buku sejarah.

“Saya ingin anak-anak kita tahu, bahwa tanah IKN ini bukan tanah kosong tanpa sejarah,” ujarnya perlahan.

Sebagai zuriat langsung Aji Galeng, turunan ke-6, Bambang merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menulis dan menghidupkan kembali jejak leluhur yang telah lama tertimbun waktu. Dalam silsilah keluarga, ia menyandang gelar Kesultanan Paser Kakah Demong Nata Kusuma Diningrat, gelar Kesultanan Kutai Mas Natawijaya, serta gelar Kerajaan Wajo La Patau’ Daeng Mabela.

“Menulis buku ini bukan sekadar penelitian sejarah, tapi juga panggilan darah. Ini tentang menghormati asal-usul dan menjaga warisan leluhur agar tidak lenyap ditelan modernitas,” katanya.

Darah Bangsawan dan Semangat Penjaga Negeri

Aji Galeng adalah keturunan bangsawan dari Kesultanan Paser dan Kutai. Dalam catatan sejarah yang ditelusuri Bambang, Aji Galeng lahir pada tahun 1790 dari garis darah dua kesultanan besar di Kalimantan Timur.

Sebagai bangsawan muda yang cerdas dan karismatik, ia dikenal memiliki kemampuan diplomasi dan strategi perang yang luar biasa. Sultan Kutai Kartanegara ke-16, Aji Muhammad Salehuddin, mengangkatnya sebagai panglima perang (Panglima Sepangan Raja) untuk menjaga wilayah Telake dan Balik dari ancaman kolonial Inggris dan Belanda.

“Aji Galeng adalah simbol keberanian dan persatuan. Beliau berperan besar dalam mengusir serangan Inggris, mempersatukan rakyat, dan menjaga kehormatan dua kesultanan,” jelasnya.

Dari Telake ke Panggung Nasional

Buku ‘Aji Galeng dari Paser Utara: Penjaga Negeri, Peletak Peradaban’ yang ia tulis bersama Safardy Bora, merupakan upaya panjang mengangkat kembali sosok lokal ke pentas nasional.

“Yang dikenal selama ini ‘kan tokoh-tokoh nasional. Sementara tokoh lokal yang menasional itu sangat minim. Saya ingin anak-anak kita tak selalu bicara pahlawan dari daerah lain, karena sejarah besar itu juga lahir dari tanah kita,” katanya.

Bambang menjelaskan wilayah Telake dan Balik yang kini menjadi bagian penting dari kawasan IKN Nusantara dulunya merupakan tanah hadiah perkawinan diplomatik antara Kesultanan Paser dan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Dari persatuan dua kesultanan inilah lahir Aji Galeng, tokoh legendaris yang menjadi penjaga batas dan simbol persaudaraan dua kerajaan besar di Kalimantan Timur.

Sebagai Panglima Sepangan Raja, pemimpin pasukan penjaga perbatasan dan pertahanan wilayah Telake dan Balik. Dalam sejarah lisan masyarakat, pasukan yang dipimpin Aji Galeng berhasil menenggelamkan 14 kapal Belanda dalam pertempuran sengit selama 93 hari di perairan Balik.

“Beliau bukan hanya panglima perang, tetapi simbol persatuan dan kehormatan dua kesultanan besar yang menjaga martabat Borneo dari ancaman kolonial,” ujarnya.

Menulis dari Akar, Bukan Sekadar Data

Penulisan buku itu bukan pekerjaan mudah. Selama tiga tahun, Bambang melakukan riset mendalam, mengikuti dua seminar nasional, dan menggelar lebih dari 20 diskusi dari 3 kesultanan seperti Kutai Kartanegara, Paser dan Wajo, ditambah dari keterangan akademisi Universitas Mulawarman, beberapa akademisi Universitas ternama di Indonesia lainnya dan budayawan lokal.

Namun di balik data dan referensi ilmiah, ada satu hal yang tidak bisa dipisahkan yakni ikatan darah dan kenangan masa kecil.

“Saya ini keturunan Kesultanan Paser,” katanya.
“Dari kecil saya sering mendengar cerita dari nenek saya tentang tanah leluhur, tentang keberanian para penjaga negeri. Dulu saya duduk di bawah tangga rumah mendengarkan kisah mereka dan sekarang saya menulisnya agar tidak hilang,” tambahnya.

Dalam risetnya, Bambang banyak berinteraksi dengan Aji Muhammad Imran, salah satu sesepuh yang masih menyimpan dokumen dan arsip penting mulai dari data tanah pusaka, stempel kerajaan, testamen, hingga putusan pengadilan zaman kolonial.

“Beliau sekarang sudah sepuh, tapi masih menyimpan semua catatan penting itu. Kalau generasi muda tidak peduli, semua ini bisa hilang. Karena itu saya merasa berkewajiban menuliskannya,” jelas Bambang.

Energi dari Tanah Leluhur

Bagi Bambang, kehadiran Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur bukanlah peristiwa kebetulan. Ia percaya ada kekuatan besar yang membuat sejarah seolah berputar kembali ke asalnya.

“Sejarah Nusantara itu mulai dari Kaltim di abad keempat dan sekarang sejarah itu kembali lagi ke sini. Dari Kaltim kembali ke Kaltim. Ini bukan tanpa makna. Ada energi besar yang lahir dari cinta para penjaga negeri terhadap tanah air,” katanya.

Ia menegaskan tanah Kalimantan Timur bukanlah tanah kosong dan miskin peradaban, melainkan tanah yang penuh patriotisme dan kebijaksanaan.

“Banyak perlawanan terhadap Belanda di Kaltim yang tak pernah ditulis. Padahal kisahnya luar biasa. Kalau kita tidak menuliskannya, siapa lagi?” ucapnya.

Dari Arsip ke Aksi

Buku Aji Galeng dari Paser Utara: Penjaga Negeri, Peletak Peradaban diluncurkan secara resmi pada 16 September 2025 di Gedung Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Peluncuran dilakukan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, dan dihadiri Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, serta para tokoh adat, akademisi, Perwakilan 3 Kesultanan dan budayawan.

Acara tersebut menjadi momentum penting untuk mengingatkan masyarakat mengenai IKN berdiri di atas tanah bersejarah tanah yang dahulu dijaga oleh para panglima dan raja yang mewariskan semangat kebangsaan kepada generasi kini.

Kini, buku tersebut dapat dibeli seharga Rp149.000 atau diakses melalui aplikasi Gramedia Digital di perangkat Android dan iOS.

Menjaga Jejak, Menyambung Warisan

Menutup perbincangan, Bambang tersenyum sembari menatap tumpukan arsip di mejanya.

“Buku ini bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah amanah dari leluhur. Supaya anak cucu kita tahu bahwa tanah IKN bukan tanah kosong. Di sinilah peradaban pernah berdiri dan di sinilah masa depan bangsa kembali dibangun,” ucapnya.

Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI