Orang Utan Jane dan Bayi Kembarnya Dievakuasi BKSDA-CAN di Kutim

NUSANTARA – Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Conservation Action Network (CAN) Borneo mengevakuasi orang utan yang memiliki bayi kembar. Orang utan betina dewasa itu bernama Jane. Bayi kembarnya, diberi nama Andrianto dan Parlin.

Kepala BKSDA Kaltim, Ari Wibawanto, yang turut dalam proses evakuasi menerangkan melihat kondisi hutan yang terfragmentasi, pihaknya bersama CAN langsung mengambil langkah penyelamatan.

“Prosesnya dilakukan secara ketat dan terukur. Kemudian kita lakukan pemeriksaan kesehatan dan hasilnya sangat baik. Sehingga 3 jam setelah pemeriksaan kami langsung melakukan pelepasliaran kembali di lokasi yang menurut kita aman yang sudah kami lakukan kajian terkait kelayakan lokasi,” jelas Ari, dalam keterangan diterima redaksi, Rabu (4/3/2026).

Tempat penemuan Jane dan bayi kembarnya tidak jauh dari Simpang Perdau, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, tempat yang sering kali ditemukan orang utan turun ke jalan.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan tim, Jane diketahui berusia sekira 15-20 tahun. Sementara bayi kembarnya berusia sekira 2-3 tahun.

Direktur CAN Borneo, Paulinus Kristianto, mengatakan pihaknya menerima informasi dari masyarakat apabila ada induk orang utan yang turun ke area terbuka.

Saat dilakukan pengecekan di hari berikutnya, pihaknya sempat tidak menemukan keberadaan orang utan tersebut. Hari berikutnya baru dapat ditemukan.

“Ternyata bayinya dua, kita bingung nih, apakah ini bayi orang utan lain atau bayinya si ibu itu (Jane). Tapi kita lihat, besarnya sama, oh ini kembar,” sebutnya.

Paulinus kemudian menjelaskan kasus bayi kembar pada orang utan sangat jarang ditemukan. Dalam catatan, kasus kelahiran orang utan kembar di Indonesia terakhir di tahun 2020 di Taman Nasional Tanjung Puting.

“Ini satu dari sekian ratus kasus bayi orang utan kembar ini,” jelasnya.

CAN dengan BKSDA Kaltim langsung melakukan analisa citra satelit di lokasi penemuan orang utan dan bayi kembar tersebut. Diketahui hutan di lokasi di mana Jane berada itu sudah tidak mendukung.

“Apalagi dengan kondisi ibu dan bayi kembar. Artinya ibunya harus ekstra nih, istilahnya dia yang harus makan 1 kilogram sehari, harus dobel untuk menyesuaikan kebutuhan susu dua anaknya ini, sedangkan kondisi habitatnya tidak memungkinkan dan diputuskanlah mereka harus diselamatkan dan ditranslokasi,” ulasnya.

Proses penyelamatan Jane dan bayi kembarnya tidak sulit dievakuasi. Sebab biasanya ketika orang utan sudah berada di pohon yang tinggi, jarang sekali mau turun.

“Keajaibannya mereka seperti ingin sekali diselamatkan dan seakan menyerahkan diri. Jadi evakuasi berjalan cepat,” ungkap Paulinus.

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI