SAMARINDA – Berangkat dari kegelisahan minimnya ruang apresiasi seni di Kota Samarinda, Ramadhan S Pernyata kembali menggelar pameran desain bertajuk ‘Samarinda Dalam Kenangan Visual’. Pameran yang kini memasuki edisi ke-7 tersebut diinisiasi melalui wadah Design Hub miliknya.
Sebagai pelopor pameran desain grafis dan visual di Samarinda sejak 2020, Ramadhan mengungkapkan perjuangannya membangun ekosistem seni secara mandiri. Tanpa dukungan fasilitas dari pemerintah, ia terpaksa menyulap toko karpet milik orang tuanya menjadi galeri temporer.
“Dari pada saya ngomel karena Samarinda mengklaim pusat peradaban tapi pameran seni tidak ada, lebih baik saya gerak sendiri. Kami tidak punya tempat, kalau nunggu pemerintah kelamaan. Ini toko karpet bapak saya disulap, karpetnya dipindahi dulu satu-satu kalau mau pameran,” ujar Ramadhan.
Dalam pameran tersebut, terkumpul lebih dari 300 karya yang masuk meja kurasi. Namun hanya 210 gambar yang terpilih karena dinilai paling sesuai dengan tema kenangan visual Kota Tepian. Karya-karya tersebut mencakup visual kuliner, transportasi, hingga bangunan bersejarah yang kini sudah hilang.
“Ini adalah proses pencatatan kebudayaan dan sejarah yang tidak formal. Bukan lewat buku teks, tapi lewat memori warga dalam bentuk gambar,” tambahnya.
Salah satu poin menarik adalah konsistensi pameran itu dalam mendokumentasikan karya ke dalam katalog fisik. Keuntungan dari penjualan katalog tersebut selama ini didonasikan ke panti asuhan dan panti perlindungan anak sebagai kontribusi nyata bagi kota.
Meski demikian, Ramadhan menyayangkan sikap pemerintah daerah terhadap karya-karya putra daerah tersebut.
“Katalog kami sudah diminta dan dikirim ke Universitas Leiden di Belanda dan Library of Congress di Amerika. Tapi sedihnya, satu pun buku kami tidak ada di perpustakaan kota atau provinsi. Saya tidak mau mengemis, masa Leiden saja datang ke sini, kita yang di sini malah tidak melirik,” sebutnya.
Terkait rencana ke depan, Ramadhan berambisi mengangkat aset budaya lokal yang sering dianggap tabu atau sekadar folklor, seperti makhluk mitologi Kalimantan.
“Kita punya aset luar biasa seperti Kuyang, Mariaban, atau Hantu Suluh. Di luar sana orang penasaran, tapi di sini belum ada yang menampilkan dalam bentuk pameran seni rupa atau ilustrasi profesional. Itu target kami selanjutnya,” ungkap pria yang dikenal dengan nama pena John Bonjes itu.
Hingga hari ini, pameran tersebut telah menarik minat ratusan pengunjung, membuktikan warga Samarinda sebenarnya haus akan ruang-ruang kreatif yang berkualitas.
Pewarta: Dimas
Editor: Yahya Yabo





