SAMARINDA – Revitalisasi Gedung Pasar Pagi Samarinda membawa paradigma baru dalam pengelolaan ruang publik. Namun perubahan tersebut tidak datang tanpa gesekan. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda kini secara tegas meminta para pedagang untuk mengubah kebiasaan lama dan mulai mengalah demi kenyamanan pengunjung.
Kapasitas lahan parkir yang terbatas di gedung baru tersebut menjadi pemicu utama. Pemkot melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda mengambil kebijakan pragmatis yakni memprioritaskan slot parkir bagi pembeli, sementara pedagang dipaksa mencari lokasi parkir alternatif di luar area pasar.
Kepala Dinas Perhubungan Samarinda, Hotmarulitua Manalu, menegaskan fungsi utama pasar adalah sebagai ruang transaksi. Menurutnya perputaran kendaraan (turnover) tidak akan berjalan efektif ketika slot parkir yang terbatas diisi oleh kendaraan pedagang dari pagi hingga sore hari.
“Pasar itu orientasinya untuk pembeli. Karena itu, pedagang kami arahkan untuk parkir di lokasi lain, seperti area Masjid Raya Darussalam atau titik-titik yang sudah ditentukan,” ujar Manalu saat menjelaskan hasil rapat lintas OPD baru-baru ini.
Kebijakan tersebut diakui Manalu menuntut adaptasi besar. Pasalnya, akses masuk gedung yang berada di Jalan Gadjah Mada kini dikelola secara ketat sesuai dokumen Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin). Tidak ada perlakuan khusus atau kursi pesan bagi pedagang, semua yang parkir di dalam gedung dianggap sebagai pengguna jasa singgah.
Di balik pembatasan parkir itu, Pemkot Samarinda ternyata sedang menyisipkan agenda besar yakni mendorong budaya jalan kaki. Manalu menyebutkan pembangunan kawasan Teras Samarinda merupakan bagian dari integrasi tata kota yang lebih luas.
“Masyarakat termasuk pedagang, harus mulai terbiasa berjalan kaki. Ke depan, orientasi kota kita akan lebih ramah bagi pejalan kaki. Ini memang tidak instan, tapi harus dimulai,” katanya.
Meski visi pemerintah bertujuan jangka panjang, di tingkat tapak, keluhan mulai bermunculan. Sejumlah pedagang merasa keberatan apabila harus memarkirkan kendaraan di Masjid Raya Darussalam atau lokasi lain yang dianggap cukup jauh.
“Bagi kami, efisiensi waktu itu penting. Kalau harus jalan jauh setiap kali ada urusan darurat dengan kendaraan atau saat bongkar muat barang kecil, itu menyulitkan,” ungkap salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya.
Menanggapi keluhan tersebut, Dishub Samarinda tetap pada pendirian untuk menggunakan pendekatan persuasif. Manalu menekankan kunci dari efisiensi parkir adalah perencanaan perjalanan yang baik. Pengunjung diharapkan datang dengan tujuan yang jelas sehingga tidak menghabiskan waktu terlalu lama di area parkir yang sangat terbatas.
“Prinsipnya, parkir itu untuk singgah, bukan ditinggal lama. Kalau perputarannya tidak jalan, pasar justru akan sepi karena pembeli malas datang akibat parkir penuh,” sebut Manalu.
Pewarta: Dimas
Editor: Yahya Yabo





