TENGGARONG – Desa Muara Kaman Ulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tidak hanya membangun destinasi wisata, tetapi merancang ruang baru bagi perputaran ekonomi warga. Pembangunan pelantar wisata berbahan kayu ulin di tepian Sungai Matang kini menjadi proyek andalan desa.
Kepala Desa Muara Kaman Ulu, Hendra, menjelaskan pengerjaan dilakukan secara bertahap dengan Dana Desa (DD). Meski terbatas, pembangunan tetap dilanjutkan demi menciptakan ikon baru desa.
“Prinsipnya dikerjakan terus, meskipun sedikit demi sedikit. Jadi berkelanjutan, tidak sekaligus selesai,” ujarnya, Jumat (5/9/2025).
Desain pelantar terinspirasi dari Taman Tanjung Tenggarong, namun dikembangkan dengan sentuhan khas Sungai Mahakam. Kayu ulin dipilih karena kokoh sekaligus bernilai estetika tinggi. “Modelnya seperti di Timbau, Taman Tanjung, tapi kita pakai ulin,” kata Hendra.
Biaya pembangunan diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Sementara alokasi DD per tahun hanya Rp75 juta hingga Rp100 juta, sehingga pemerintah desa berencana menggandeng perusahaan sekitar melalui program CSR.
Hendra menyebut kawasan tersebut punya potensi wisata alami. Dari sisi barat Sungai Matang, pengunjung bisa menyaksikan panorama matahari terbit yang menawan. “Pemandangannya bagus sekali. Kalau dikelola dengan baik, bisa jadi daya tarik utama,” jelasnya.
Lebih dari sekadar destinasi, pelantar ini diproyeksikan sebagai pusat UMKM. Desa menyiapkan kios kuliner, area produk kerajinan, hingga spot foto agar aktivitas wisata sekaligus menghidupkan ekonomi lokal. “Kalau sudah jadi, kios UMKM bisa kita siapkan. Ini bukan sekadar tempat wisata, tapi wadah perputaran ekonomi warga,” tegasnya.
Untuk mempercepat pembangunan, desa menargetkan tambahan anggaran minimal Rp100 juta pada tahun depan, sembari menunggu dukungan swasta. “Sedikit demi sedikit kita bangun, yang penting konsisten. Mudah-mudahan di 2026 dapat tambahan anggaran dan ada dukungan dari swasta,” jelasnya. (adv)
Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo





