DI SEJUMLAH titik penjualan hewan kurban seperti Pasar Olah Bebaya Melak, Pasar Nala Linggan Bigung hingga kawasan Paras Jaras Barong Tongkok, geliat pasar belum menunjukkan lonjakan signifikan. Aktivitas jual beli masih berjalan lambat. Banyak warga baru sebatas datang melihat-lihat harga, membandingkan ukuran hewan, lalu pulang tanpa transaksi.
Kondisi itu menjadi gambaran bagaimana pasar hewan kurban di Kubar tahun ini bergerak lebih hati-hati. Pedagang belum bisa bernapas lega, sementara peternak berharap lonjakan pembelian tetap terjadi pada pekan terakhir menjelang Iduladha.
“Sekarang kebanyakan masih survei. Ada yang kasih DP supaya dapat sapi bagus, tapi belum ramai benar,” ujar Pendi, peternak sapi di Kampung Sumber Rejo, Kecamatan Sekolaq Darat.
Di kandangnya, puluhan sapi telah disiapkan untuk musim kurban tahun ini. Ukurannya beragam, mulai kelas menengah hingga sapi berbobot besar yang menyasar pembeli kelompok masjid maupun perusahaan.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Sapi berbobot sekitar 600 kilogram dijual hingga Rp46 juta per ekor. Untuk sapi bobot 400 kilogram berada di kisaran Rp30 juta, sedangkan sapi ukuran 260 hingga 280 kilogram dijual sekitar Rp23 juta per ekor.
Sementara kambing dijual mulai Rp2,5 juta hingga Rp5 juta, tergantung ukuran dan kondisi fisik hewan.
Meski pasar belum ramai, para peternak tetap optimistis. Mereka meyakini pola pembelian masyarakat Kubar memang cenderung terjadi mendekati hari raya.
Namun di balik optimisme itu, tersimpan kekhawatiran lain: daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Daya Beli Belum Pulih Total
Fenomena pasar yang masih lesu menunjukkan masyarakat kini lebih selektif dalam mengeluarkan uang untuk berkurban. Tidak sedikit warga yang memilih patungan atau menunda pembelian sambil menunggu kondisi keuangan lebih stabil.
Pedagang juga mengakui transaksi tahun ini berjalan lebih lambat dibanding momentum Iduladha sebelum-sebelumnya. Meski demikian, harga hewan kurban relatif tidak mengalami lonjakan tajam.
Ketua Asosiasi Pedagang Hewan Kubar, Ridwan, mengatakan stabilitas harga terjadi karena pasokan hewan tahun ini cukup aman dan distribusi ternak berjalan lancar.
“Harga masih relatif stabil dibanding tahun lalu. Pasokan hewan juga aman karena sebagian besar berasal dari peternak lokal,” katanya.
Menurut Ridwan, kondisi tersebut sedikit membantu pedagang mempertahankan pasar di tengah masyarakat yang masih berhitung dalam berbelanja.
Beberapa penjual bahkan mulai menerapkan sistem pembayaran bertahap atau cicilan agar warga tetap bisa berkurban.
“Pedagang sekarang harus cari cara supaya pembeli tetap ada. Ada yang boleh DP dulu, ada yang dicicil,” ujarnya.
Strategi itu menjadi penanda bahwa pasar hewan kurban tidak lagi hanya bicara soal tradisi tahunan, tetapi juga soal kemampuan ekonomi masyarakat yang berubah.
Peternak Lokal Jadi Andalan
Di tengah melambatnya transaksi, satu hal yang cukup menguntungkan bagi Kubar adalah dominasi pasokan ternak lokal. Ketergantungan terhadap hewan dari luar daerah dinilai tidak sebesar wilayah lain di Kalimantan Timur.
Peternak lokal menjadi penopang utama pasar kurban tahun ini. Selain membantu menjaga stabilitas harga, kondisi itu juga mempermudah pengawasan kesehatan hewan.
Kepala Dinas Pertanian Kutai Barat, Stepanus Alexander Samson, memastikan pengawasan kesehatan hewan kurban terus dilakukan hingga mendekati hari penyembelihan.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan hewan yang dijual memenuhi syarat kesehatan dan bebas dari penyakit menular.
“Kami mengimbau masyarakat membeli hewan kurban di lapak resmi yang sudah terdaftar agar kesehatannya terjamin,” katanya.
Pemerintah daerah juga melakukan pemantauan rutin terhadap lalu lintas ternak yang masuk maupun keluar wilayah Kubar guna mencegah penyebaran penyakit hewan.
Langkah tersebut dinilai penting karena momentum Iduladha selalu meningkatkan mobilitas ternak secara besar-besaran.
Menanti Hari-Hari Terakhir
Bagi pedagang dan peternak, pasar kurban memiliki pola yang hampir selalu sama. Sepi di awal, memuncak menjelang hari H. Karena itu, kondisi pasar yang belum ramai saat ini belum sepenuhnya dianggap sebagai ancaman. Harapan masih tertumpu pada pekan terakhir menjelang Iduladha, saat masyarakat mulai bergerak membeli hewan kurban.
Apalagi pemerintah telah menetapkan 27 Mei 2026 sebagai libur nasional Iduladha dan 28 Mei sebagai cuti bersama. Momentum libur panjang diperkirakan membuat distribusi ternak dan pelaksanaan kurban berjalan lebih leluasa.
Di kandang-kandang penjualan hewan kurban di Kubar, para pedagang kini hanya bisa menunggu.
Menunggu warga yang mulai datang membawa keputusan. Menunggu transaksi yang diharapkan mampu menutup biaya pakan dan perawatan berbulan-bulan. Dan menunggu apakah Iduladha tahun ini benar-benar membawa berkah bagi pasar ternak lokal, atau justru menjadi penanda bahwa tekanan ekonomi masih membayangi tradisi kurban masyarakat. (MK)





