Pendidikan Perempuan Meningkat, Kesetaraan Kepemimpinan Masih Jadi Tantangan

SAMARINDA — Persoalan kesetaraan perempuan di Indonesia masih menjadi tantangan serius, meski akses pendidikan perempuan terus mengalami peningkatan. Mulai dari kesenjangan pendapatan, budaya patriarki, hingga stigma terhadap perempuan di ruang publik dan dunia kerja masih menjadi hambatan yang nyata.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan peningkatan kapasitas pengguna riset dan inovasi untuk masyarakat yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama BRIDA Kaltim di Fugo Hotel Samarinda, Kamis (21/5/2026) dengan tema ‘Semangat Kebangkitan Nasional: Perempuan Sebagai Penggerak Inovasi dan Masa Depan’.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengatakan perempuan saat ini menghadapi tantangan yang tidak hanya berasal dari lingkungan sosial, tetapi dari konstruksi budaya yang telah lama berkembang di masyarakat.

Salah satu fenomena yang disorotinya adalah mansplaining yakni kondisi ketika laki-laki berbicara seolah lebih mengetahui segala hal dibanding perempuan serta meremehkan kemampuan maupun pendapat perempuan.

“Mansplaining merujuk pada situasi saat laki-laki berbicara seolah-olah mereka tahu segalanya melebihi perempuan. Mereka kerap memberikan komentar tanpa diminta lawan bicaranya dan meremehkan kemampuan maupun pendapat perempuan,” ujar Hetifah.

Selain itu, ia menyinggung persoalan kesenjangan upah yang hingga kini masih terjadi di dunia kerja. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, perempuan menerima upah sekitar 23 persen lebih rendah dibanding laki-laki meskipun memiliki tingkat pendidikan yang sama.

Menurut Hetifah, kondisi tersebut menunjukkan kualitas pendidikan perempuan belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesempatan dan penghargaan yang diterima di dunia kerja.

Ia menjelaskan akses pendidikan perempuan di Indonesia saat ini sebenarnya sudah menunjukkan perkembangan positif. Bahkan, tidak ada lagi perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh pendidikan.

“Sekarang hampir 50 persen. Banyak perempuan yang menjadi profesor. Kabar baiknya, perempuan juga cenderung lulus lebih cepat dan memiliki nilai lebih bagus. Kalau ada peluang beasiswa ke luar negeri, perempuan justru lebih banyak yang lolos,” katanya.

Meski demikian, ia menilai capaian pendidikan tersebut masih menjadi pekerjaan rumah dalam aspek kepemimpinan perempuan.

“Belum tentu pendidikan yang bagus otomatis membuat perempuan mendapatkan kesempatan kepemimpinan yang baik. Di tempat kerja masih ada income gap karena pendapatan perempuan lebih rendah, padahal perempuan sering kali bekerja lebih keras,” tuturnya.

Hetifah menjelaskan fenomena lain yakni hambatan yang muncul dari dalam diri perempuan akibat budaya patriarki yang telah lama berkembang di masyarakat. Budaya tersebut membuat sebagian perempuan merasa ragu menyampaikan pendapat, takut mengambil peluang kepemimpinan, atau kurang percaya diri menunjukkan kemampuannya di ruang publik.

Menurutnya perempuan yang berbicara lebih aktif di lingkungan kerja maupun ruang publik kerap menerima penilaian negatif dibanding laki-laki dalam situasi yang sama.

Dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional, Hetifah mengatakan kegiatan tersebut diharapkan mampu membangkitkan motivasi perempuan untuk lebih aktif bergerak dalam bidang inovasi dan riset.

“Kami ingin membangkitkan motivasi kaum perempuan untuk bergerak bersama. Banyak perempuan di Kaltim sebenarnya bisa memulai inovasi dari rumah sendiri atau menjadi peneliti dan inovator andal yang mampu menciptakan solusi bagi persoalan masyarakat sehari-hari,” ujarnya.

Ia menyebut inovasi perempuan dapat diwujudkan melalui teknologi tepat guna, ide kreatif, hingga pengembangan produk berbasis kebutuhan masyarakat dan kearifan lokal.

Hetifah mendorong perempuan agar lebih mengenal berbagai hasil riset dan inovasi yang dihasilkan BRIN maupun BRIDA Kaltim, termasuk riset terkait kesehatan, nutrisi keluarga, hingga teknologi pangan untuk mendukung pelaku UMKM perempuan.

“Misalnya bagaimana UMKM perempuan bisa dibantu memproduksi makanan yang tahan lama, bisa dikirim ke luar daerah tetapi kualitasnya tetap baik. Itu sebenarnya membutuhkan riset,” jelasnya.

Selain itu, ia menilai akses informasi terhadap hasil-hasil penelitian masih menjadi tantangan bagi perempuan. Padahal, BRIN juga menyediakan berbagai peluang beasiswa hingga program doktor berbasis riset yang dapat dimanfaatkan perempuan di daerah.

“Banyak hasil riset yang sebenarnya sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari perempuan, tetapi akses informasinya belum tersampaikan dengan baik. Mudah-mudahan setelah kegiatan ini kita bisa lebih banyak melakukan sosialisasi,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Periset BRIDA Kaltim, Prof. Rizki Maharani, mengatakan perempuan memiliki peran penting sebagai motor penggerak perubahan, termasuk dalam bidang riset dan inovasi.

Menurutnya keterlibatan perempuan dalam proses riset maupun pengambilan keputusan akan memberikan dampak besar, mulai dari peningkatan ekonomi keluarga hingga ketahanan komunitas dan bangsa.

“Ketika perempuan dilibatkan dalam proses riset dan inovasi serta pengambilan keputusan, dampaknya langsung terasa, minimal di lingkungan keluarga. Mulai dari peningkatan ekonomi keluarga hingga kualitas generasi bangsa,” ujarnya.

Ia menegaskan riset tidak boleh hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah atau dokumen kebijakan semata, melainkan harus menjadi solusi nyata yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Melalui workshop tersebut, BRIDA Kaltim berharap masyarakat, khususnya perempuan, mampu memahami cara mengakses dan memanfaatkan hasil riset untuk memperkuat program maupun usaha di komunitas masing-masing.

Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perempuan dalam menyusun proposal inovasi yang berperspektif gender dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat jejaring antara peneliti, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat.

“BRIDA Kaltim berkomitmen membuka ruang seluas-luasnya bagi perempuan agar menjadi subjek pembangunan, bukan hanya objek,” jelas Rizki.

Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI