Permintaan China Pendorong Harga Batu Bara Tembus Tertinggi Setahun

SAMARINDA – Harga batu bara global terus menunjukkan tren penguatan dan bahkan mencetak rekor tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir. Penguatan itu didorong oleh permintaan energi yang tetap solid, khususnya dari China sebagai produsen sekaligus konsumen batu bara terbesar di dunia.

Mengutip laporan CNBC Indonesia, pada perdagangan, Senin (16/2/2026) harga batu bara ditutup di level US$120,1 per ton atau menguat 0,17 persen. Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif selama tiga hari berturut-turut dengan penguatan sekitar 3,3 persen.

Rekor tersebut menjadi yang tertinggi sejak 6 Januari 2025. Penguatan terjadi seiring langkah China merapikan sektor batu baranya di tengah tanda-tanda konsumsi yang mulai mencapai puncak.

Sementara itu, data dari Trading Economics menunjukkan kontrak berjangka batu bara termal dari pelabuhan Australia sempat naik di atas US$111 per ton pada akhir Januari, level tertinggi sejak Agustus tahun lalu. Permintaan kuat dari pembangkit listrik disebut menjadi faktor utama kenaikan harga.

China bahkan dijadwalkan meluncurkan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga batu bara pada 2026, di luar lebih dari 400 proyek yang masih dalam tahap pembangunan. Kondisi tersebut menandakan ketergantungan terhadap batu bara masih tinggi meskipun energi terbarukan terus diprioritaskan secara global.

Selain itu, harga batu bara terdorong oleh penurunan persediaan di pelabuhan utara China. Stok di pelabuhan transshipment utama seperti Qinhuangdao tercatat mengalami tren penurunan dalam sepekan yang berakhir pada 13 Februari. Penurunan itu terjadi karena pengeluaran batu bara melampaui pasokan yang masuk melalui jalur kereta api.

Di beberapa pelabuhan wilayah Laut Bohai, total stok mingguan tercatat lebih rendah. Secara keseluruhan kondisi itu mencerminkan konsumsi dan pengiriman yang masih kuat dibandingkan suplai masuk.

Meski demikian, produksi Indonesia diperkirakan turun menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026 dari hampir 800 juta ton pada tahun sebelumnya, di tengah penurunan impor dari China dan India.

Kombinasi permintaan yang tinggi dan stok yang menipis membuat harga batu bara berpotensi tetap bertahan di level kuat dalam waktu dekat, terutama apabila kebutuhan listrik global terus meningkat.

Pewarta: K Irul Umam
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI