BERAU – Produk kakao asal Kabupaten Berau mulai mendapat tempat di pasar internasional. Namun di tengah terbukanya peluang ekspor yang semakin besar, daerah ini justru menghadapi persoalan utama berupa keterbatasan produksi yang belum mampu memenuhi tingginya permintaan dari luar negeri.
Kondisi tersebut diungkapkan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said. Menurutnya dalam beberapa tahun terakhir, kakao Berau menunjukkan perkembangan yang cukup menjanjikan dan mulai menarik perhatian perusahaan-perusahaan pengolahan cokelat kelas dunia.
Salah satu pencapaian penting terjadi pada awal 2026 ketika kakao Berau berhasil melakukan ekspor perdana sebanyak 10 ton ke pasar Eropa. Produk tersebut dikirim melalui kerja sama dengan perusahaan cokelat ternama asal Prancis, Valrhona, yang dikenal sebagai salah satu produsen cokelat premium dunia.
Keberhasilan itu menjadi pintu masuk bagi peluang pasar yang lebih luas. Bahkan setelah mengikuti pameran internasional di Amsterdam, Belanda, muncul komitmen permintaan lanjutan yang mencapai 50 ton per tahun.
Namun angka tersebut ternyata hanya sebagian kecil dari potensi pasar yang tersedia. Permintaan dari Jepang diperkirakan mencapai 500 ton per tahun, sementara pasar Swiss membutuhkan sekitar 50 ton per tahun.
“Ini peluang besar, tapi juga tantangan. Kita harus pastikan kesiapan produksi di tingkat petani,” ujar Muhammad Said.
Menurutnya tingginya minat pasar internasional menjadi bukti kualitas kakao Berau mampu bersaing di tingkat global. Namun tanpa peningkatan kapasitas produksi, peluang tersebut berisiko dimanfaatkan oleh daerah atau negara lain yang memiliki pasokan lebih besar.
Said menilai kondisi tersebut sekaligus menjadi momentum penting bagi Berau dalam membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor pertambangan. Kakao dinilai memiliki prospek yang menjanjikan sebagai salah satu komoditas unggulan yang mampu memberikan nilai ekonomi berkelanjutan.
Meski demikian, pengembangan sektor kakao tidak cukup hanya mengandalkan permintaan pasar. Pemerintah daerah menilai perlu adanya penguatan dari sisi hulu, mulai dari perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas kebun, hingga perbaikan kualitas hasil panen agar sesuai standar ekspor.
“Pasarnya sudah ada. Yang menjadi pekerjaan kita sekarang adalah bagaimana memastikan produksi mampu mengikuti kebutuhan tersebut,” katanya.
Ia menjelaskan masih banyak lahan di Berau yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sentra kakao baru. Pemanfaatan lahan-lahan yang belum produktif dinilai dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam beberapa tahun mendatang.
Selain itu, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam mendorong percepatan pengembangan komoditas tersebut. Petani diharapkan mulai melihat kakao sebagai komoditas masa depan yang memiliki prospek cerah dan pasar yang jelas.
Pada sisi lain, pemerintah daerah mengakui keterbatasan anggaran menjadi salah satu tantangan dalam memberikan dukungan pembiayaan secara langsung kepada petani. Karena itu, kolaborasi dengan sektor swasta menjadi langkah yang terus didorong.
Muhammad Said mengapresiasi sejumlah perusahaan yang telah terlibat dalam pengembangan kakao di Berau, termasuk PT Berau Coal yang selama ini aktif menjalankan program pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Perlu kolaborasi, terutama dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Berau,” tegasnya.
Menurutnya dukungan sektor swasta dapat membantu mempercepat peningkatan kapasitas petani melalui pendampingan, penyediaan bibit unggul, pelatihan budidaya, hingga akses pemasaran yang lebih luas.
Sementara itu, pemerintah daerah berkomitmen memberikan dukungan dari sisi regulasi dan kemudahan perizinan untuk mempercepat pertumbuhan sektor kakao. Langkah tersebut diharapkan mampu menarik lebih banyak investasi dan mendorong lahirnya ekosistem industri kakao yang kuat di Berau.
Apabila peluang pasar global dapat dimanfaatkan secara optimal, kakao tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani, tetapi membuka lapangan kerja baru serta menjadi sumber pendapatan daerah di masa depan.
“Kalau peluang ini bisa kita tangkap bersama, bukan hanya membuka lapangan kerja, tapi juga bisa menjadi sumber PAD ke depan,” jelasnya. (rm/adv)
Editor: Yahya Yabo





