Program MBG di Kelurahan Air Hitam, Pemkot Samarinda Tinjau Dapur

SAMARINDA — Tim Satuan Tugas (Satgas) Makanan Bergizi Gratis (MBG) Pemerintah Kota Samarinda melakukan peninjauan lapangan di salah satu dapur program MBG di Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu, Rabu (27/8/2025).

Peninjauan merupakan tindak lanjut dari arahan serius Wali Kota Samarinda untuk memastikan kelancaran dan kualitas program yang telah berjalan di sepuluh titik di Kota Samarinda.

Pelaksana Tugas (Plt) Asisten 1 Pemkot Samarinda, Suwarso, menjelaskan peninjauan tersebut bersifat koordinatif dan melibatkan seluruh anggota Satgas MBG dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“Tim dari Dinas Kesehatan memeriksa makanan, kebersihan peralatan, hingga ruang penyimpanan makanan basah dan kering. Sementara itu, tim dari Ketahanan Pangan bertugas menjaga ketersediaan bahan makanan segar dan stabilitas harga,” ujar Suwarso.

Selain itu, Dinas Pendidikan berperan dalam menyiapkan data siswa penerima manfaat. Menurut Suwarso, seluruh perangkat daerah harus berperan aktif untuk menyukseskan program.

Dalam peninjauan di dapur yang dikelola Satgas Penyelenggara Program Gizi (SPPG) Samarinda Ulu II, tim Satgas MBG memeriksa penataan ruang, Standar Operasional Prosedur (SOP) bahan baku, SOP pekerja, serta SOP kebersihan dan kesehatan.

“Hasil dari tinjauan ini, semua sudah mengikuti SOP dan petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN),” kata Suwarso.

Tim Dinas Kesehatan mengambil sampel makanan dan wadahnya untuk uji laboratorium. Hasil uji lab diperkirakan akan keluar dalam tiga hari. Apabila ada perbaikan yang perlu dilakukan, tim Satgas akan segera menyampaikannya kepada pihak SPPG.

“Pada prinsipnya, kami di sini melakukan pembinaan. Karena ini masih tahap awal, tentu ada beberapa perbaikan yang perlu dilakukan. Namun, kami melihat kondisi dapur sangat bersih dan tertata rapi,” imbuhnya.

Kepala SPPG Samarinda Ulu 2, Thiara Chikita, mengatakan dapur ini melayani empat sekolah dengan total 2.330 porsi makanan.

“Untuk memastikan kesegaran makanan, proses pengemasan ke dalam kotak makan (ompreng) harus selesai maksimal empat jam sebelum sampai ke sekolah. Ini karena makanan tidak menggunakan bahan pengawet,” jelasnya.

Thiara menjelaskan pendanaan program tersebut berasal dari BGN dengan anggaran Rp15.000 per porsi.

Mitra penyedia yang bertanggung jawab atas pengadaan peralatan, fasilitas, kendaraan operasional, dan gaji relawan nantinya akan dibayar oleh BGN.

“Untuk Samarinda Ulu 2, biaya sewa untuk dua minggu sekitar Rp45 juta. Semua mitra yang menyiapkan, nanti biaya sewanya dari Rp15.000 itu Rp2.000 untuk biaya sewa,” terang Suwarso.

Selain itu, pemilihan sekolah penerima manfaat dilakukan berdasarkan jarak terdekat dari dapur dengan radius sekitar enam kilometer.

“Pemilihan menu juga bervariasi setiap harinya untuk memastikan siswa tidak bosan. Kami bahkan mengidentifikasi alergi pada anak-anak di setiap sekolah agar menu dapat disesuaikan,” sebut Thiara.

Suwarso menyampaikan pengawasan terhadap program tersebut tidak hanya dilakukan oleh Satgas MBG, tetapi melibatkan pihak Kejaksaan Negeri, TNI, dan Polri.
“Ini merupakan program nasional. Bapak wali kota memiliki tekad tinggi untuk menyukseskan program ini di Kota Samarinda,” tegasnya.

Pewarta: Dimas
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI