Proses Seleksi Ketat, Julita Wakili Kaltim di Paskibraka Nasional 2026

TENGGARONG – Perjuangan panjang yang dijalani Julita Rista Lestari akhirnya berbuah manis. Siswi SMA Negeri 1 Tabang itu resmi terpilih sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Nasional 2026 dan akan mewakili Kalimantan Timur (Kaltim) dalam upacara kenegaraan di Istana Negara.

Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, bukan hanya bagi Julita dan keluarganya, tetapi bagi Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Pasalnya pelajar asal Kecamatan Tabang yang dikenal sebagai wilayah hulu di Kukar itu berhasil menembus salah satu seleksi paling ketat di tingkat nasional.

Kabar kelulusan tersebut masih membekas dalam ingatan Julita. Ia mengaku tidak mampu menyembunyikan rasa haru saat namanya diumumkan lolos sebagai wakil Kalimantan Timur.

“Jujur, rasanya seperti mimpi jadi kenyataan. Haru banget sampai enggak bisa nahan air mata,” ungkap Julita, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya keberhasilan itu tidak diraih seorang diri. Dukungan orang tua, sekolah, dan para pelatih menjadi bagian penting yang mengantarkannya hingga ke tingkat nasional.

Selain rasa bangga, Julita menyadari ada tanggung jawab besar yang kini harus diemban. Ia akan membawa nama Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur di hadapan para peserta terbaik dari seluruh Indonesia.

“Selain bangga, ada tanggung jawab besar yang bikin saya makin termotivasi untuk tampil sebaik mungkin,” katanya.

Perjalanan menuju Paskibraka Nasional tidak berlangsung singkat. Julita harus melalui serangkaian seleksi berjenjang yang menguji kemampuan fisik, kedisiplinan, wawasan kebangsaan, hingga kekuatan mental.

Latihan fisik dan baris berbaris menjadi menu harian selama masa persiapan. Di bawah terik matahari, ia ditempa untuk menjaga stamina sekaligus membangun karakter disiplin yang menjadi syarat utama seorang anggota Paskibraka.

Namun tantangan terbesar bukan hanya soal fisik. Julita harus menjaga fokus dan kepercayaan diri selama mengikuti setiap tahapan seleksi.

“Bukan cuma fisik yang diuji, tapi juga mental. Kami harus tetap fokus walaupun capek dan terus belajar supaya siap menghadapi setiap tahapan seleksi,” ujarnya.

Momen paling menegangkan terjadi ketika ia mengikuti seleksi tingkat nasional. Bertemu peserta-peserta terbaik dari berbagai provinsi sempat membuat rasa gugup muncul.

Apalagi suasana seleksi yang berlangsung di lingkungan formal dan penuh persaingan membuat tekanan semakin terasa.

Julita mengaku pernah merasa minder saat melihat kemampuan peserta lain. Namun ia memilih mengubah perasaan itu menjadi motivasi untuk menunjukkan kemampuan terbaik yang dimiliki.

“Kadang ada rasa minder saat melihat peserta lain. Tapi saya berusaha meyakinkan diri bahwa saya juga datang membawa kemampuan dan persiapan yang sama,” tuturnya.

Selain menghadapi tekanan psikologis, para peserta dituntut menjaga kondisi tubuh selama proses seleksi. Waktu tunggu yang panjang dan aktivitas padat membuat kebugaran menjadi faktor penting.

Di balik keberhasilan tersebut, Julita menyebut dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan terbesar.

Doa, perhatian, dan pengorbanan orang tua menjadi energi yang membuatnya mampu bertahan hingga akhir proses seleksi.

“Orang tua selalu jadi penyemangat utama. Doa dan dukungan mereka yang membuat saya bisa bertahan sampai di titik ini,” katanya.

Selain keluarga, dukungan datang dari lingkungan sekolah, teman-teman, Kesbangpol Kutai Kartanegara, serta para pembina DPPI yang terus memberikan pendampingan dan motivasi selama proses seleksi berlangsung.

Kini setelah dinyatakan lolos sebagai anggota Paskibraka Nasional 2026, Julita mulai memusatkan perhatian pada persiapan menuju pemusatan pendidikan dan pelatihan nasional.

Ia memilih menjaga kesehatan, meningkatkan latihan secara mandiri, dan memperkuat mental sebelum bergabung dengan para wakil terbaik dari seluruh Indonesia.

Bagi Julita, keberhasilannya menjadi pesan tentang keterbatasan wilayah bukanlah penghalang untuk berprestasi. Ia berharap generasi muda Kutai Kartanegara berani bermimpi besar dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

“Jangan minder duluan. Tunjukkan kalau anak-anak Kukar punya mental baja, fisik kuat, dan disiplin tinggi,” kata Julita.

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI