Ramadan Digemakan Tradisi, Kaltim Takkan Pernah Sepi

RAMADAN di Kalimantan Timur tidak pernah datang dalam sunyi. Ia selalu disambut dengan bunyi, cahaya, aroma rempah, dan jejak langkah yang bergerak serempak menuju ruang-ruang kebersamaan. Di provinsi yang dialiri Sungai Mahakam dan dipeluk hutan tropis ini, bulan suci bukan sekadar momentum ibadah personal, melainkan peristiwa sosial dan kultural yang menghidupkan kembali tradisi lintas generasi.

Beberapa hari sebelum hilal terlihat, suasana sudah berubah. Jalan menuju pemakaman mulai ramai, rumah-rumah dibersihkan, dan keluarga yang lama tak bersua saling berkabar untuk menentukan waktu berkumpul. Ada kesadaran kolektif bahwa Ramadan harus diawali dengan hati yang lapang, membersihkan yang terlihat, sekaligus merapikan yang tak kasatmata.

Di Sangatta, warga memulai dengan ziarah kubur. Mereka datang membawa sapu dan doa, menundukkan kepala di antara pusara, mengingat asal-usul dan tujuan akhir kehidupan. Dari sana, tradisi berlanjut ke ruang tamu rumah-rumah, tempat doa bersama digelar dalam ritual yang dikenal sebagai Mbaca atau megang puasa sebuah perjamuan spiritual sebelum memasuki hari-hari penuh pengendalian diri.

Di atas tikar yang dibentang, bukan hanya ayat-ayat suci yang dilantunkan. Ada ketan empat warna dan bubur merah putih yang tersaji sebagai simbol. Warna-warna itu bukan sekadar hiasan, melainkan bahasa budaya tentang kesucian, kemuliaan, ketenangan, dan keberanian. Ramadan dimaknai sebagai perjalanan batin, dan tradisi menjadi penuntunnya.

Sementara itu, di tepian Sungai Mahakam, dentuman keras memecah senja. Leduman, meriam kayu raksasa menggema hingga ke hulu dan hilir, menjadi penanda berbuka yang telah bertahan lebih dari setengah abad. Di Desa Jantur, bunyi itu bukan hanya pengingat waktu, tetapi gema solidaritas warga yang bergotong royong membuat dan merawatnya.

Di kampung-kampung tua Kutai, cahaya lilin dinyalakan di depan pintu rumah pada magrib terakhir sebelum puasa. Di sampingnya terletak beras, pinang, gambir, kapur sirih, dan daun sirih sebagai simbol niat, rezeki, pengendalian diri, dan perekat silaturahmi. Pintu menjadi batas simbolik antara dunia luar dan ruang batin yang hendak disucikan.

Screenshot

Ketika Ramadan benar-benar tiba, wajah kota pun ikut berubah. Di Tenggarong, lorong-lorong permukiman disulap menjadi lautan cahaya lewat Kampung Seribu Lampu. Warga menyatukan tenaga dan biaya untuk menyalakan ribuan lampu, menghadirkan terang yang tak hanya memikat mata, tetapi juga menghangatkan rasa kebersamaan.

Di Ibu Kota Nusantara, bubur rempah nusantara dimasak ratusan porsi setiap hari untuk takjil berbuka. Resep tradisional dari Samarinda Seberang dibawa ke ruang baru bernama Nusantara, menghadirkan cita rasa lama dalam lanskap masa depan. Di sana, Ramadan juga menjadi panggung toleransi, ketika mereka yang tak berpuasa ikut membantu menyiapkan hidangan berbuka.

Di Balikpapan, buka puasa “dibayar dengan doa” menjadi simbol lain dari semangat berbagi. Ratusan warga dan pengemudi ojek daring mengantre sejak sore, menikmati takjil dan makanan berat tanpa dipungut biaya. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, Ramadan justru menjadi musim panen kebaikan.

Beragam tradisi itu menunjukkan satu benang merah, masyarakat Kalimantan Timur menyambut Ramadan bukan hanya dengan persiapan ibadah, tetapi juga dengan perayaan kebersamaan. Dari dentuman kayu hingga cahaya lampu, dari ketan empat warna hingga bubur rempah hangat, semuanya adalah cara merawat identitas, memperkuat silaturahmi, dan memastikan bahwa bulan suci datang dalam suasana yang hidup dan diramaikan bersama.

Melalui laporan Tim Redaksi Media Kaltim kali ini, pembaca akan diajak untuk menelusuri bagaimana masyarakat di berbagai penjuru dari pesisir Mahakam hingga kota-kota yang terus tumbuh modern menyambut Ramadan dengan cara mereka sendiri. Setiap daerah memiliki corak, simbol, dan cerita yang berbeda, namun semuanya bermuara pada tujuan yang sama dengan mempersiapkan diri lahir dan batin menyambut bulan suci.

Di tengah arus perubahan zaman, tradisi-tradisi ini menjadi penanda identitas. Sebagian masih bertahan kuat, sebagian mulai memudar dan jarang dijumpai. Namun semuanya menyimpan pelajaran tentang bagaimana sebuah masyarakat memaknai waktu sakral dengan kebersamaan, kesederhanaan, dan makna yang dalam.

Simak selengkapnya dalam kumpulan tulisan sajian hangat penuh filosofi sehingga Ramadan di Kalimantan Timur menjadi sebuah cerita tentang manusia dan harapan, yang layak untuk dibaca dan direnungkan bersama. (Tim MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI