Rayakan Hari Jadi ke-53, Pesta Adat Desa Budaya Pampang Samarinda Berlangsung Meriah

SAMARINDA – Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 hari ini telah resmi dibuka di desa adat Pampang. Festival itu merupakan ajang pelestarian kebudayaan Dayak Kenyah sekaligus mendongkrak kunjungan wisata ke Desa Budaya Pampang yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Samarinda. Kegiatan dimulai dari tanggal 25 Juni hingga 28 Juni 2026.

Pariwisata berbasis kebudayaan di Desa Pampang, Kecamatan Samarinda Utara, memang sudah lama menjadi magnet bagi para pelancong. Melalui gelaran tahun ini, masyarakat adat berkomitmen untuk terus merawat identitas mereka sekaligus mengenalkan kekayaan seni Nusantara kepada generasi muda di tengah era modernisasi.

Sejak pagi hari, antusiasme masyarakat dan wisatawan sudah memadati area pemukiman adat. Pembukaan acara berlangsung dengan sangat khidmat melalui serangkaian prosesi adat yang jarang dijumpai di tempat lain.

Pesta adat ke 53 tahun yang merayakan berdirinya komunitas di Pampang tersebut dibuka dengan prosesi masyarakat Desa Pampang yang berbaris rapi di sepanjang jalan masuk menuju Lamin Adat Pamung Tawai, lalu sejumlah tamu terdiri dari berbagai elemen pemerintahan dan tokoh masyarakat termasuk Wali Kota Samarinda, Andi Harun diarak menggunakan Alut Adang alias perahu terbang.
Sebelum menaiki perahu, mereka diberi pakaian adat Dayak dan mandau sebagai senjata khas. Lalu naik ke sebuah perahu kayu. Kemudian diangkat oleh para pemuda Dayak dan diarak menuju lamin adat tempat acara berlangsung.

Setelah tiba di dalam lamin adat yang menjadi pusat kegiatan, para pejabat dan wisatawan langsung disuguhi penampilan memukau dari para pemuda pemudi lokal.

Berbagai kesenian Dayak yang ditampilkan sama. Sejumlah tarian berhasil memesona mereka. Seperti kelompok penari laki-laki yang bergerak dengan baju adat yang dilengkapi tameng dan pedang di tangan, namanya tarian Ajay Pilling, melambangkan keperkasaan dan kekuatan para lelaki.

Tidak hanya menampilkan ketangguhan kaum pria, kelembutan dan keluhuran filosofi hidup suku Dayak tergambar jelas lewat tarian dari para penari wanita yang tampil

Kelompok mereka menarikan tarian Burung Enggang yang dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan warga suku Dayak Kenyah terhadap nenek moyang mereka.

Selain seni pertunjukan tari, festival itu menjadi ruang pameran bagi produk-produk kerajinan lokal. Tidak hanya itu, sejumlah pernak-pernik khas Dayak ada di beberapa tempat yang berada di sepanjang jalan masuk menuju lamin adat.

Hadir langsung di tengah-tengah masyarakat adat, Wali Kota Samarinda, Andi Harun mengapresiasi kegiatan festival. Andi Harun menyampaikan pandangan mengenai pentingnya menjaga kerukunan serta memetik pelajaran berharga dari kearifan lokal suku Dayak Kenyah dalam menjaga keseimbangan alam.

“Ini adalah kalender event kita yang bersifat reguler tiap tahun dan hari ini Kita semua hadir dalam rangka hari ulang tahun yang ke-53 Desa Budaya Pampang sekaligus dirangkaikan dengan festival budaya, adat, budaya, sekaligus syukuran atas pasca panen masyarakat, festival hari ini itu tidak sekedar soal seremonial tapi ada tiga perayaan sekaligus refleksi bagi kita khususnya generasi saat ini untuk terus kita jaga dan melestarikan sebagai warisan. Dari sini kita belajar bahwa Samarinda ini dibangun atas kerja sama gotong royong, atas dasar kekerabatan Samarinda, dibangun di atas persatuan yang lahir dari perbedaan. Samarinda itu adalah kota yang harus terus dijaga nilai identitas,” kata Andi Harun.

Ia mengaitkan pola hidup masyarakat adat dengan isu lingkungan yang saat ini menjadi perhatian krusial di wilayah perkotaan, seperti penanganan banjir dan tanah longsor.

“Dari budaya masyarakat Kenyah, kita belajar besar tentang bagaimana melestarikan visi hijau. Peristiwa hari ini di beberapa tempat termasuk di Samarinda, banjir dan tanah longsor itu merupakan cermin agar kita kembali pada bagaimana menjaga alam dengan pendekatan adat. Makanya dalam putusan mahkamah konstitusi, ada putusan untuk menjaga hutan adat tidak lagi bisa dianeksasi oleh siapa pun. Karena hutan itu diberikan kepada masyarakat adat untuk dijaga maka pasti lestari, pasti akan hijau,” ungkapnya.

Pihak panitia penyelenggara mengakui persiapan tahun ini membutuhkan kerja keras, terutama dalam mengelola anggaran demi memfasilitasi para pelaku UMKM di sekitar kawasan desa budaya.

Sekretaris Panitia, Yusak Lukas persiapan telah dilakukan dari bulan April. Dimulai dengan pembentukan panitia dan setelah itu bergerak untuk promosi dan koordinasi dengan dinas terkait.

“Jadi karena anggaran terbatas, kami dikasih stand terbatas jadi tidak semua UMKM yang dapat berjualan karena keterbatasan anggaran dari pemerintah. Tapi kalau untuk momen acaranya tetap kami laksanakan seperti tahun sebelumnya jadi tidak pernah kami kurangi justru malah lebih ramai, karena di hari beberapa hari ke depan kami akan melakukan upacara-upacara adat lagi,” sebutnya.

Meskipun ruang bagi UMKM sedikit terbatas, panitia tetap menaruh harapan besar agar festival tahunan ini bisa terus berkembang dan mendapatkan dukungan yang lebih besar dari berbagai pihak pada masa mendatang.

“Harapan kami agar festival budaya ini tetap kami laksanakan setiap tahunnya, jadi mohon bantuan dan dukungan dari semua pihak agar festival ini makin ditingkatkan ke level nasional. Karena daya kunjung masyarakat terkait dengan budaya adat pampang ini sangat luar biasa,” katanya.

Pewarta: Abika Ramadhan
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI