SAMARINDA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menekankan pentingnya peran aktif perguruan tinggi dalam mendorong kemandirian bangsa, khususnya melalui hilirisasi, penguatan inovasi, dan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. Pesan tersebut disampaikan dalam pertemuan nasional bersama sekitar 1.200 pimpinan perguruan tinggi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Rektor Universitas Mulawarman (Unmul), Prof. Abdunnur, menyampaikan dalam pertemuan tersebut Presiden memberikan pengarahan umum kepada seluruh pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta tanpa penekanan khusus pada institusi tertentu.
Meski bersifat umum, Presiden menyoroti isu strategis nasional, salah satunya potensi kebocoran pendapatan negara dari sektor-sektor berbasis sumber daya alam seperti Migas, perkebunan kelapa sawit, dan pertambangan.
“Presiden menyampaikan kondisi energi nasional dan situasi ekonomi Indonesia, termasuk masih adanya kebocoran pendapatan negara dari berbagai kegiatan eksploitasi sumber daya alam,” ujar Prof. Abdunnur saat dikonfirmasi, Senin (19/1/2026).
Selain itu, Presiden menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat pendidikan tinggi, salah satunya melalui peningkatan pagu anggaran kementerian terkait hingga sekitar 50 persen.
Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman, Prof. Susilo, turut hadir dalam pertemuan tersebut memandang pengarahan Presiden sebagai sinyal kuat agar perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat wacana, tetapi benar-benar menghadirkan dampak nyata bagi bangsa.
Menurut Prof. Susilo, pertemuan yang berlangsung hampir tiga jam tersebut berisi taklimat langsung Presiden kepada sekitar 1.200 rektor, dekan, serta sejumlah guru besar dari seluruh Indonesia.
“Arahan Presiden sangat jelas. Intinya ada tiga hal besar yang saya tangkap,” ujar Guru Besar Unmul itu.
Pertama, Presiden menekankan pentingnya hilirisasi yang harus didominasi oleh perguruan tinggi nasional.
Menurutnya proses hilirisasi sumber daya dan penguasaan teknologi harus berada di tangan anak bangsa agar daya saing dan kemandirian nasional benar-benar terbangun.
“Pak Presiden menekankan bahwa hilirisasi di Indonesia ini harus dipegang oleh perguruan tinggi kita, supaya kemandirian dan daya saing bangsa berada di tangan anak bangsa sendiri,” jelasnya.
Kedua, Prof. Susilo menyebut Presiden meminta perguruan tinggi bersinergi dengan seluruh komponen bangsa dan pemerintah untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan nasional.
“Perguruan tinggi jangan hanya banyak berbicara tapi kurang makna. Kita ini bagian dari elit intelektual bangsa. Maka elit intelektual harus hadir dan bekerja bersama pemerintah membangun bangsa,” tegasnya.
Ia menambahkan pembangunan nasional melibatkan banyak komponen, mulai dari elit politik, buruh, hingga sektor masyarakat lainnya. Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai penggerak pemikiran, inovasi, dan solusi.
Ketiga, Presiden Prabowo menekankan pentingnya kedekatan antara pemerintah dan perguruan tinggi. Menurut Prof. Susilo, undangan kepada rektor dan dekan merupakan upaya Presiden membuka ruang komunikasi yang lebih intens agar kampus dapat memberikan masukan strategis langsung kepada pemerintah.
“Presiden tidak ingin jauh dari perguruan tinggi. Karena itu rektor dan dekan diundang, supaya ada kedekatan dan ruang bagi kampus memberi input yang signifikan,” ujarnya.
Selain itu, Presiden menaruh perhatian pada penguatan Ilmu Pengetahuan, Teknologi (Iptek), dan inovasi sebagai fondasi hilirisasi dan kemandirian nasional.
“Inovasi dan kreativitas anak bangsa harus kentara dan dominan. Itu tugas perguruan tinggi. Supaya ke depan bangsa ini mandiri dan tidak tergantung pada bangsa lain,” kata Prof. Susilo.
Menurutnya arahan Presiden tersebut sejalan dengan semangat ‘kampus berdampak’, di mana perguruan tinggi tidak berdiri sendiri tetapi menjadi bagian aktif dari seluruh komponen bangsa dalam membangun Indonesia.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





