Rita Widyasari Ungkap Perjalanan Sembilan Tahun di Penjara, Mengaku Lebih Banyak Doa dan Olahraga

TENGGARONG – Mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Rita Widyasari, untuk pertama kalinya secara terbuka menceritakan kembali pengalaman panjangnya selama menjalani masa penahanan, sejak terjerat kasus gratifikasi pada 2017.

Setelah hampir sembilan tahun berada dalam sistem pemasyarakatan, Rita menyebut perjalanan itu sebagai fase hidup yang berat, namun sekaligus membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan sehari-hari, terutama dalam aspek kesehatan, dan spiritualitas.

Rita mengungkapkan selama masa penahanan, ia tidak hanya berada di satu tempat, melainkan berpindah-pindah antara Rumah Tahanan (Rutan) dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

Ia menyebut pengalaman itu berlangsung dalam rentang yang panjang dan melibatkan banyak pergantian kepala Lapas. Dalam penuturannya, Rita bahkan menyebut dirinya sempat melewati setidaknya tiga Lapas dan Rutan.

“Saya mengalami tiga Lapas, tiga Rutan. Satu Lapas KPK, Pondok Bambu, baru Tangerang,” sebutnya.

Ia menekankan selama menjalani masa tersebut, dirinya memilih untuk tidak tenggelam dalam situasi psikologis yang berat, melainkan berusaha menyesuaikan diri dengan rutinitas baru di dalam tahanan.

Salah satu perubahan yang paling ia rasakan justru terjadi pada aspek kesehatan. Rita mengaku selama di dalam tahanan ia lebih disiplin dalam menjaga kondisi fisik dibandingkan saat masih bebas.

Aktivitas olahraga yang sebelumnya jarang ia lakukan kini menjadi rutinitas harian. Ia bahkan menyebut kebiasaan tersebut membuat kondisi tubuhnya terasa lebih baik.

“Sekarang aku lebih sehat dibandingkan dulu. Dulu aku olahraga jarang, sekarang aku olahraga setiap hari,” serunya.

“Dan saya bahagia, saya jalani, saya olahraga, saya berdoa dan sebagainya,” tambahnya.

Ia mengaku membawa peralatan olahraga sendiri sebagai bagian dari kebiasaan yang ia pertahankan selama menjalani masa penahanan, termasuk latihan fisik yang menurutnya membantu menjaga kondisi tubuh.

Selain olahraga, Rita mengisi waktu dengan aktivitas lain seperti melukis dan kegiatan sederhana yang tidak melibatkan perangkat elektronik. Menurutnya, keterbatasan ruang gerak justru membuatnya lebih banyak melakukan aktivitas reflektif.

“Jadi saya meluangkan waktu karena memang enggak ada ngapa-ngapain, saya melukis dan melakukan aktivitas lain yang semua peralatannya bukan elektronik,” ujarnya.

Pada sisi lain, Rita menegaskan selama menjalani masa tahanan ia berusaha menerima keadaan dengan pasrah. Ia mengaku lebih banyak berdoa dan menjaga kondisi mental agar tetap stabil.

Pengalaman panjang tersebut, menurutnya, menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup yang tidak mudah dilupakan, terlebih karena berlangsung hampir satu dekade.

Rita menyinggung selama masa tersebut dirinya tetap mengikuti perkembangan hidup di luar, meski terbatas.

Ia menyebut pengalaman di dalam tahanan membuatnya memiliki perspektif baru tentang kehidupan, termasuk soal waktu, kesehatan, dan hubungan sosial. Ia menilai masa itu sebagai fase yang mengubah banyak hal dalam dirinya, baik secara fisik maupun emosional.

Dalam pernyataannya, Rita tidak hanya berbicara soal masa lalu, tetapi menunjukkan bagaimana ia berusaha menata ulang kehidupannya setelah bebas.

Meski tidak merinci langkah ke depan secara politik, ia menegaskan pengalaman panjang di balik jeruji telah membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan yang ia jalani hari ini.

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI