Ruang Perempuan di Samarinda Mulai Tumbuh, Masih Kerap Diabaikan

SAMARINDA — Perempuan di Samarinda mulai memiliki ruang untuk berbicara. Namun suara mereka belum tentu dianggap.

Melalui berbagai forum diskusi, perempuan mulai berani berbicara. Mereka berbagi pengalaman, menyampaikan keresahan, hingga menguatkan satu sama lain. Namun di luar ruang-ruang itu, terutama di dunia kerja, suara yang sama kerap dipandang sebelah mata, bahkan dianggap sekadar berangkat dari perasaan.

Kontras itu terlihat dalam kegiatan Afternoon Tea & Talk yang diselenggarakan Grow Girls Gang bersama FUGO Hotel Samarinda, Sabtu (25/4/2026).

Forum kecil itu mempertemukan perempuan dari berbagai latar belakang. Bukan hanya untuk belajar, tetapi untuk mengonfirmasi pengalaman yang selama ini kerap dipendam.

Pemateri kegiatan, Awlia, aktif sebagai konten kreator dan public speaker menilai ruang ekspresi perempuan di Samarinda memang mulai tumbuh, meski belum sepenuhnya menjangkau.

“Kalau sekarang, ruangnya sudah mulai ada. Tapi memang masih terbatas,” ujarnya.

Menurutnya kesadaran perempuan terhadap nilai diri mulai meningkat, seiring maraknya diskusi personal branding di ruang digital. Namun ruang nyata yang tersedia belum berkembang secepat kesadaran tersebut.

“Masih banyak yang belum aware (perhatian). Kalau dibandingkan kota di Jawa, kita masih tertinggal,” katanya.

Ia menyoroti ekspektasi sosial yang masih membatasi perempuan.

“Perempuan di sini masih dituntut bekerja atau jadi ibu rumah tangga saja. Setelah itu selesai, tanpa ada ruang untuk berekspresi lebih,” ujarnya.

Meski demikian, ia melihat perubahan mulai muncul, terutama dari keberanian perempuan untuk tampil.

“Yang awalnya takut bersuara, sekarang jadi lebih berani. Tinggal dikasih mic saja mereka sudah mau bicara,” katanya.

Namun keberanian itu belum selalu berbanding lurus dengan penerimaan.

Dila, salah satu peserta yang bekerja di perusahaan swasta dengan dominasi laki-laki mengaku suara perempuan belum sepenuhnya diposisikan setara.

“Yang kita sampaikan sering dianggap berangkat dari perasaan, padahal itu bisa jadi solusi,” ujarnya.

Ia mengaku kerap menyampaikan ide hingga solusi dalam pekerjaannya. Namun respons yang diterima sering berhenti ditahap didengar, tanpa benar-benar dipertimbangkan.

“Disampaikan iya, tapi dijalankan tidak, dipertimbangkan juga tidak,” katanya.

Menurut Dila, kondisi itu tidak lepas dari cara pandang yang masih menempatkan perempuan pada posisi kurang strategis, termasuk dalam struktur jabatan.

“Perempuan sering ada di posisi bawah, jadi untuk didengar saja sudah sulit,” ujarnya.

Situasi tersebut membuat perempuan tidak hanya harus bersuara, tetapi berjuang agar suaranya diakui.

Dalam kondisi seperti itu, pilihan untuk tetap berbicara tidak selalu mudah.

“Kalau terus tidak didengar, ada di titik ya sudah, bodo amat,” kata Dila.

Namun ia mengaku tetap memilih menyuarakan pendapatnya, terutama ketika berkaitan langsung dengan tanggung jawab pekerjaan.

Pada sisi lain, ia menyadari rasa tidak percaya diri yang kerap dialami perempuan tidak sepenuhnya berasal dari diri sendiri.

“Ternyata masalahnya bukan dari diri kita, tapi dari lingkungan kerja,” ujarnya.

Ia menambahkan rasa insecure (tidak percaya diri) yang tidak disadari dapat berdampak langsung pada performa kerja.

“Kalau kita merasa tidak mampu, itu akan terbawa ke cara kita bekerja,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Awlia dalam sesi diskusi. Ia menilai banyak perempuan sebenarnya memiliki potensi, namun belum memiliki ruang yang cukup untuk mengekspresikannya.

“Kita semua punya value. Jadi tunjukkan value itu, hadir, dan jangan terlalu mendengarkan kata-kata orang,” ujarnya.

Menurutnya keberanian untuk tampil harus dimulai dari kesadaran setiap perempuan memiliki nilai dalam dirinya.

“Ketika kita sudah merasa cukup dengan diri kita, penilaian orang lain tidak lagi terlalu berpengaruh,” kata Awlia.

Selanjutnya Dila menilai persoalan ruang perempuan tidak berhenti pada dunia kerja. Dalam penelitiannya terkait pelaporan kekerasan terhadap perempuan dan anak, dirinya menemukan banyak kasus yang tidak terungkap.

“Kasus itu seperti gunung es, yang terlihat sedikit, tapi sebenarnya banyak yang tidak terlapor,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah faktor yang membuat perempuan memilih diam yakni rasa malu, takut, hingga minimnya kepercayaan terhadap sistem.

“Banyak yang tidak melapor karena malu, takut, dan tidak tahu harus ke mana,” katanya.

Fenomena itu menunjukkan persoalan ruang perempuan bukan hanya soal keberanian individu, tetapi tentang lingkungan dan sistem yang belum sepenuhnya aman.

Pada kondisi tersebut, ruang-ruang kecil seperti forum diskusi mulai mengambil peran sebagai tempat aman bagi perempuan untuk berbicara.

Namun menurut Dila, ruang seperti itu tidak cukup apabila hanya hadir sesekali. “Ruang untuk perempuan itu harus terus ada, tidak hanya di momen tertentu,” ujarnya.

Ia menekankan keberanian saja tidak cukup. Perempuan perlu memiliki dasar yang kuat agar suaranya bisa diperhitungkan.

“Kalau mau didengar, perempuan harus punya data. Itu jadi senjata untuk bersuara,” katanya.

Untuk itu di tengah ruang yang belum sepenuhnya setara, satu hal menjadi titik awal, meski belum selalu menjamin akan didengar.
“Selagi itu benar dan berdasarkan fakta, maka ekspresikan,” jelasnya.

Pewarta: Nuzul Saputra
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI