SAMARINDA – Ruang Sastra Kaltim kembali menggelar Bincang Rabu Sore Spesial dengan tema ‘Lokalitas Sastra di Kalimantan Timur: Antara yang Etnik-Tradisi dan yang Urban’, Rabu (29/10/2025).
Kegiatan yang berlangsung di Temindung Creative Hub, Jalan Pipit, Samarinda tersebut menghadirkan suasana hangat dan penuh gagasan, mempertemukan penulis, peneliti, dan pegiat budaya lintas generasi.
Empat narasumber tampil dalam forum tersebut masing-masing membawa perspektif yang kaya. Nella Putri Giriani, dosen Sastra Indonesia Universitas Mulawarman sekaligus peneliti, membuka diskusi dengan menyoroti bagaimana sastra Kaltim masih berakar kuat pada nilai-nilai etnik dan tradisi.
Namun, menurutnya tantangan besar kini justru muncul dari arus urbanisasi dan digitalisasi yang mengubah cara masyarakat memaknai identitas lokal.
Sementara itu, Romo Roedy Haryo Widjono, budayawan Kalimantan Timur, menegaskan pentingnya menjaga narasi tradisi agar tidak hilang ditelan modernitas. Ia mencontohkan banyak karya sastra yang kini mulai kehilangan konteks lokal karena pengaruh gaya hidup kota.
“Sastra bukan sekadar estetika, tapi juga memori kolektif. Kita harus menjaganya agar tetap hidup dalam bentuk apa pun,” ujarnya.
Dari sisi generasi muda, Nabillah Kurniati hadir membawa perspektif segar. Aktivis yang aktif berbicara soal gender dan feminisme itu menyoroti pentingnya ruang sastra yang lebih inklusif dan berpihak pada suara-suara perempuan serta kelompok minoritas. Menurutnya lokalitas tidak hanya bicara soal adat dan tradisi, tetapi tentang representasi dan keberagaman pengalaman manusia Kaltim masa kini.
Adapun Dadang Ari Murtono, penulis sekaligus peraih sejumlah nominasi sastra nasional, menutup sesi diskusi dengan refleksi tentang proses kreatif dan tanggung jawab penulis terhadap lingkungan sosialnya. Ia menilai karya sastra yang baik bukan hanya menghibur tetapi menjadi cermin peradaban yang merekam dinamika perubahan zaman.
Diskusi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai komunitas sastra, seni, dan mahasiswa itu berlangsung atraktif dan interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pandangan, berbagi pengalaman, dan memperkaya dialog tentang posisi sastra lokal di tengah derasnya arus modernitas.
Melalui kegiatan tersebut, Ruang Sastra Kaltim kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga denyut kehidupan sastra di daerah, menjembatani antara yang etnik-tradisi dan yang urban, serta mempertemukan berbagai perspektif agar sastra Kaltim terus tumbuh dinamis dan relevan dengan zaman.
Pewarta: K Irul Umam
Editor: Yahya Yabo





