PENURUNAN trafik penumpang di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan mulai menjadi sinyal baru bagi sektor transportasi udara di Kalimantan Timur. Di tengah kenaikan harga tiket pesawat yang dikeluhkan masyarakat, maskapai justru mengurangi sejumlah rute dan frekuensi penerbangan dari dan menuju Balikpapan.
Kondisi ini memunculkan efek berlapis. Di satu sisi, harga tiket terus merangkak naik akibat lonjakan biaya avtur dan penerapan fuel surcharge. Di sisi lain, berkurangnya jumlah penerbangan membuat pilihan masyarakat semakin terbatas. Akibatnya, akses mobilitas menuju dan dari Kalimantan Timur menjadi semakin mahal sekaligus semakin sempit.
General Manager Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, R Iwan Winaya Mahdar, membenarkan adanya penurunan jumlah penumpang dalam beberapa waktu terakhir. Namun, menurutnya, kondisi tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya dipicu kenaikan harga tiket.
“Pada saat ini memang benar terjadi penurunan jumlah penumpang, namun kami tidak dapat memastikan penurunan tersebut dikarenakan oleh kenaikan harga tiket. Yang terjadi saat ini adalah terjadinya pengurangan rute penerbangan dari dan/atau ke Balikpapan,” ujarnya.
Menurut Iwan, tren trafik penumpang di Bandara SAMS Sepinggan saat ini cenderung landai dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan itu beriringan dengan keputusan sejumlah maskapai yang mengurangi frekuensi maupun membuka penyesuaian operasional penerbangan.
“Beberapa maskapai benar mengurangi rute atau jadwal penerbangan,” katanya.
Fenomena berkurangnya penerbangan terjadi bersamaan dengan melonjaknya harga tiket domestik sejak April hingga Mei 2026. Kenaikan tersebut dipicu oleh lonjakan harga avtur global yang kemudian direspons pemerintah melalui penerbitan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 1041 Tahun 2026 tentang Besaran Biaya Tambahan (Surcharge) akibat fluktuasi bahan bakar.
Aturan tersebut membuka ruang bagi maskapai untuk menerapkan fuel surcharge pada tarif penerbangan domestik kelas ekonomi.
Iwan menegaskan, kenaikan tarif bukan berasal dari biaya operasional bandar udara. Menurutnya, penyesuaian tarif lebih dipengaruhi oleh komponen tambahan bahan bakar.
“Penyesuaian tarif lebih berkaitan dengan kebijakan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge,” jelasnya.
Dampaknya mulai terasa pada sejumlah rute favorit. Harga tiket Balikpapan–Jakarta yang sebelumnya berkisar Rp1 juta hingga Rp1,2 juta kini menembus sekitar Rp1,8 juta per penumpang, terutama untuk jadwal tertentu dan penerbangan langsung.
Kenaikan ini memukul masyarakat yang sangat bergantung pada transportasi udara. Berbeda dengan wilayah di Pulau Jawa yang memiliki alternatif transportasi darat dan kereta api, mobilitas masyarakat Kalimantan Timur masih sangat bertumpu pada pesawat.
Bagi pekerja sektor migas, tambang, aparatur sipil negara, pelaku usaha hingga mahasiswa, penerbangan bukan lagi kebutuhan sekunder, melainkan urat nadi mobilitas antarwilayah.

Otban: Tidak Ada Pelanggaran Tarif
Di tengah keluhan masyarakat soal mahalnya tiket, Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII Balikpapan memastikan belum menemukan pelanggaran tarif oleh maskapai penerbangan.
Kepala Otban Wilayah VII Balikpapan, Ferdinan Nurdin, menyebut tarif tiket kelas ekonomi hingga saat ini masih mengacu pada Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB) yang ditetapkan pemerintah.
“Mahalnya harga tiket yang berkembang di tengah masyarakat umumnya bukan berasal dari pelanggaran tarif, melainkan dari pembelian tiket transit atau layanan non-ekonomi,” ujarnya.
Menurut Ferdinan, kenaikan harga tiket lebih disebabkan penerapan fuel surcharge akibat kenaikan harga avtur dunia. Artinya, secara regulasi maskapai masih berada dalam koridor aturan yang berlaku.
Meski demikian, Otban menegaskan pengawasan terhadap tarif penerbangan tetap dilakukan, khususnya pada layanan niaga berjadwal kelas ekonomi.
Pemerintah pusat juga disebut menyiapkan stimulus berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk membantu menjaga keterjangkauan harga tiket domestik. Namun, di lapangan, masyarakat menilai dampak stimulus tersebut belum cukup terasa.
Ancaman bagi Konektivitas Kaltim
Penurunan trafik penumpang dan berkurangnya frekuensi penerbangan menjadi persoalan strategis bagi Kalimantan Timur, terutama di tengah meningkatnya peran daerah ini sebagai kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Balikpapan selama ini menjadi pintu gerbang utama mobilitas orang dan logistik menuju IKN maupun berbagai daerah di Kalimantan. Ketika penerbangan berkurang dan tiket semakin mahal, dampaknya tidak hanya dirasakan penumpang individu, tetapi juga dunia usaha, sektor pariwisata, hingga investasi.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai keberlanjutan konektivitas udara di Kalimantan. Jika biaya operasional maskapai terus meningkat sementara daya beli masyarakat melemah, maskapai cenderung memilih mengurangi frekuensi untuk menjaga tingkat keterisian penumpang.
Situasi ini berpotensi menciptakan lingkaran masalah baru: tiket mahal membuat permintaan turun, lalu maskapai mengurangi penerbangan, dan keterbatasan penerbangan kembali mendorong harga tiket tetap tinggi.
Bagi masyarakat Kalimantan Timur, persoalan tiket pesawat kini tidak lagi sekadar soal harga, tetapi juga tentang aksesibilitas dan keberlangsungan konektivitas wilayah. (MK)





