MENJELANG Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah atau 2026, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali menyalurkan bantuan sapi kurban untuk wilayah Kalimantan Timur dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Tahun ini, total 13 ekor sapi kurban disiapkan untuk Kaltim dan IKN.
Bantuan itu terdiri dari 10 ekor untuk kabupaten dan kota di Kaltim, satu ekor untuk Pemerintah Provinsi Kaltim, serta dua ekor tambahan untuk wilayah IKN.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim, Fadli Sufiani mengatakan, bantuan sapi kurban Presiden bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Di balik itu, terdapat proses panjang mulai dari seleksi ternak, pemeriksaan kesehatan, hingga koordinasi lintas lembaga antara pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, dan Sekretariat Presiden.
“Alhamdulillah Presiden Prabowo ini sudah tahun kedua membantu bantuan kemasyarakatan berupa sapi kurban ke 10 kabupaten kota di Kaltim. Provinsi juga mendapat satu ekor, jadi total 11 ekor. Kemudian untuk IKN ada dua ekor lagi,” ujar Fadli.
Sapi bantuan Presiden tahun ini bukan sapi biasa. Bobotnya mencapai ratusan kilogram hingga lebih dari satu ton. Untuk tingkat provinsi, sapi yang disiapkan memiliki bobot sekitar 1.070 kilogram.
Sementara sapi yang disalurkan ke kabupaten dan kota rata-rata berbobot di atas 600 hingga 700 kilogram. Bahkan di Kabupaten Berau terdapat sapi dengan bobot mendekati satu ton.
Menurut Fadli, sapi-sapi tersebut berasal dari jenis unggulan seperti Simental, Limousin, hingga Brahman, jenis sapi yang dikenal memiliki postur besar dan nilai ekonomi tinggi.
“Jenis sapinya eksotis semua, sapi-sapi besar,” katanya.
Pemilihan sapi berbobot jumbo bukan tanpa alasan. Selain menjadi simbol perhatian Presiden kepada masyarakat daerah, sapi-sapi berukuran besar juga memiliki nilai simbolik tersendiri dalam momentum Iduladha.
Di sejumlah daerah, sapi bantuan Presiden kerap menjadi pusat perhatian masyarakat karena ukuran dan kualitasnya yang dianggap istimewa.
Namun di balik kemegahan itu, ada fakta lain yang ikut tersorot: sebagian sapi unggulan tersebut masih bergantung pada sistem pembibitan dan pasokan yang belum sepenuhnya mandiri.
Ketergantungan Pasokan Luar Daerah Masih Tinggi
Meski Kaltim memiliki potensi peternakan yang besar, realitas di lapangan menunjukkan ketergantungan terhadap pasokan sapi dari luar daerah masih sangat tinggi.
DPKH Kaltim mencatat, sekitar 70 persen kebutuhan sapi potong di Kaltim masih dipenuhi dari luar daerah, terutama dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi.
Kondisi ini menjadi tantangan serius, terlebih ketika kebutuhan hewan kurban masyarakat terus mengalami peningkatan setiap tahun.
Berdasarkan data hasil rapat koordinasi DPKH bersama pemerintah kabupaten dan kota, stok sapi kurban di Kaltim tahun 2026 mencapai sekitar 28.688 ekor. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan Iduladha yang diperkirakan berada di angka 18.525 ekor.
Angka kebutuhan itu meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 17.890 ekor.
Sementara untuk kambing, stok tersedia mencapai 9.422 ekor dengan estimasi kebutuhan sekitar 6.713 ekor.
“Kami melihat dua tahun terakhir tren masyarakat untuk berkurban semakin meningkat,” kata Fadli.
Peningkatan minat masyarakat berkurban di satu sisi menjadi indikator membaiknya partisipasi sosial dan keagamaan masyarakat. Namun di sisi lain, lonjakan permintaan juga meningkatkan risiko lalu lintas ternak antar daerah yang lebih masif.
Semakin tinggi arus masuk hewan ternak, semakin besar pula ancaman masuknya penyakit hewan menular.
PMK Jadi Ancaman yang Tak Bisa Dianggap Remeh
Trauma wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa tahun terakhir masih membekas di kalangan peternak dan pemerintah daerah.
Karena itu, menjelang Iduladha tahun ini, pengawasan kesehatan hewan diperketat secara menyeluruh.
Fadli menegaskan, seluruh hewan ternak yang masuk ke Kaltim wajib memenuhi standar kesehatan dan memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal.
“Kalau menyangkut kesehatan hewan, SOP itu sudah pasti. Semua hewan wajib memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal,” tegasnya.
Pemeriksaan dilakukan secara berlapis. Hewan ternak yang datang dari luar daerah terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan dan prosedur karantina sebelum masuk ke wilayah distribusi.
Setelah tiba di Kaltim, pemeriksaan kembali dilakukan guna memastikan sapi benar-benar bebas dari penyakit menular.
“Kami harus waspada juga kalau ada sapi dari luar daerah yang membawa penyakit ke Kaltim, khususnya PMK. Makanya SOP lalu lintas hewan harus benar-benar ditaati,” ujarnya.
DPKH Kaltim juga menerapkan sistem identifikasi melalui barcode atau penandaan khusus pada ternak yang telah lolos pemeriksaan kesehatan.
Langkah itu dilakukan untuk mempermudah pengawasan sekaligus memastikan hewan yang beredar di masyarakat telah memenuhi standar kesehatan.
Tak hanya pemeriksaan sebelum pemotongan, pengawasan juga dilakukan hingga proses penyembelihan berlangsung.
DPKH Kaltim akan membentuk tim pengawasan hewan kurban yang turun langsung ke lapangan menjelang Iduladha.
Pemeriksaan dilakukan dalam dua tahapan, yakni antemortem dan postmortem.
Pemeriksaan antemortem dilakukan sebelum hewan disembelih dengan mengecek kondisi fisik ternak, kesehatan tubuh, hingga kebersihan kandang dan lokasi penjualan.
“Sebelum dipotong, kami periksa kondisi kesehatan hewannya, fisiknya, termasuk lingkungan kandangnya,” jelas Fadli.
Sementara pemeriksaan postmortem dilakukan setelah penyembelihan dengan memeriksa organ dalam hewan seperti jantung, paru-paru, hati, hingga jeroan.
Langkah itu penting untuk memastikan tidak ada indikasi penyakit yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.
Pengawasan tersebut sekaligus menjadi bagian dari edukasi kepada panitia kurban terkait standar pemotongan yang higienis dan aman.
“Kami mengingatkan agar daging tidak berserakan di lantai, tidak terkena kotoran hewan, sehingga kualitas dan kebersihan daging kurban tetap terjaga,” pungkasnya.
Momentum Menguji Kemandirian Peternakan Kaltim
Di balik tingginya antusiasme Iduladha dan bantuan sapi kurban Presiden, terdapat pekerjaan rumah besar yang masih dihadapi Kaltim: mewujudkan kemandirian peternakan.
Ketersediaan stok memang dinyatakan aman. Namun ketergantungan terhadap pasokan luar daerah menunjukkan produksi ternak lokal masih belum mampu menopang kebutuhan konsumsi masyarakat secara penuh.
Padahal, dengan hadirnya IKN dan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, kebutuhan daging sapi di Kaltim diperkirakan akan terus melonjak dalam beberapa tahun ke depan.
Program inseminasi buatan (IB) yang mulai menghasilkan sapi unggulan lokal menjadi salah satu harapan untuk memperkuat populasi ternak daerah.
Fadli menyebut, sebagian sapi bantuan Presiden tahun ini bahkan merupakan hasil program inseminasi buatan yang dikembangkan peternak lokal.
“Ini juga ada sapi hasil inseminasi buatan dari petani peternak kita,” katanya.
Keberhasilan menghasilkan sapi berbobot besar dari peternak lokal menunjukkan potensi sektor peternakan Kaltim sebenarnya cukup menjanjikan.
Namun tanpa penguatan pembibitan, dukungan pakan, pengendalian penyakit, hingga jaminan pasar bagi peternak, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah berpotensi terus berlangsung.
Iduladha akhirnya bukan sekadar momentum ibadah kurban. Di Kaltim, perayaan ini juga menjadi cermin tentang ketahanan pangan, kesehatan hewan, hingga kesiapan daerah penyangga IKN dalam membangun kemandirian sektor peternakan di tengah permintaan yang terus meningkat. (MK)





