SAMARINDA – Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Timur, Sri Wahyuni, menegaskan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terhadap program Sekolah Rakyat yang menjadi salah satu prioritas nasional Presiden Republik Indonesia dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.
Pernyataan tersebut disampaikan Sri Wahyuni saat menghadiri kegiatan Open House Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 58 Samarinda, Sabtu (20/6/2026).
Sri Wahyuni menyampaikan salam dari Gubernur Kalimantan Timur yang berhalangan hadir. Ia mengatakan gubernur sebelumnya juga telah meninjau langsung sekolah tersebut sebagai bentuk perhatian dan komitmen pemerintah daerah terhadap pengembangan Sekolah Rakyat di Benua Etam.
Menurut Sri, Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya besar negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan karena keterbatasan ekonomi maupun kondisi sosial lainnya.
“Ini adalah program prioritas nasional dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memberikan dukungan sepenuhnya. Sekolah Rakyat menjadi bukti nyata komitmen negara dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan Kalimantan Timur saat ini telah memiliki tiga Sekolah Rakyat. Salah satunya berada di Samarinda, sementara dua lainnya masih memanfaatkan fasilitas milik instansi vertikal dan Balai Latihan Kerja (BLK).
Selain itu, Pemprov Kaltim telah menyiapkan lahan seluas sekitar tujuh hektare di kawasan Bukit Biru untuk pembangunan Sekolah Rakyat yang lebih representatif.
Pemerintah Provinsi Kaltim bahkan mengalokasikan anggaran daerah untuk mematangkan lahan tersebut agar siap dibangun. Sri menyebut pembangunan fisik Sekolah Rakyat permanen ditargetkan mulai berlangsung pada Oktober 2026.
“Insya Allah tahun ini pembangunan akan dimulai. Kami ingin menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih baik sehingga anak-anak memperoleh lingkungan belajar yang semakin nyaman dan berkualitas,” katanya.
Sri menilai kehadiran Sekolah Rakyat menjadi sangat penting dalam menghadapi bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada periode 2035 hingga 2045. Pada masa tersebut, mayoritas penduduk Indonesia akan berada pada usia produktif yang menjadi modal besar bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.
Namun demikian, menurutnya bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila generasi muda saat ini mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.
Sebaliknya apabila masih banyak anak usia sekolah yang tidak memperoleh akses pendidikan, maka Indonesia berisiko kehilangan peluang besar untuk menjadi negara maju.
“Anak-anak yang sekarang berada di bangku sekolah akan menjadi generasi produktif pada tahun 2045. Karena itu kita tidak boleh membiarkan mereka kehilangan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan potensi diri,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Wahyuni menyoroti program Gratispol yang menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Menurutnya Sekolah Rakyat dan Gratispol merupakan dua program yang saling melengkapi dalam memastikan keberlanjutan pendidikan masyarakat.
Ia menjelaskan apabila Sekolah Rakyat memberikan akses pendidikan hingga tingkat menengah, maka lulusan sekolah tersebut nantinya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui program Gratispol yang membebaskan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi warga Kaltim yang memenuhi persyaratan.
“Ini menjadi sinergi yang baik antara program pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Anak-anak mendapatkan kesempatan belajar sejak dini hingga perguruan tinggi tanpa terkendala biaya pendidikan,” ungkapnya.
Sri Wahyuni menyampaikan apresiasi kepada kepala sekolah, guru, wali asuh, tenaga pendidik, serta para orang tua yang telah mendukung proses pembinaan siswa di Sekolah Rakyat Terpadu 58 Samarinda.
Menurutnya perubahan yang ditunjukkan para siswa selama satu tahun terakhir merupakan hasil kerja keras seluruh pihak yang terlibat. Ia mengaku terharu melihat perkembangan anak-anak yang sebelumnya datang dengan berbagai keterbatasan, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun kemampuan akademik.
“Bahkan ada anak yang sebelumnya belum bisa membaca di usia sekolah, namun dalam waktu beberapa bulan sudah mampu membaca dengan baik. Ada pula yang harus memulai pendidikan dari jenjang yang lebih rendah karena sebelumnya tidak pernah mengenyam pendidikan secara layak,” katanya.
Dirinya menilai keberhasilan tersebut menunjukkan setiap anak memiliki potensi untuk berkembang apabila mendapatkan perhatian, pendampingan, dan kesempatan yang tepat.
Selain pendidikan akademik, Sekolah Rakyat dinilai berhasil membangun karakter siswa melalui pembinaan disiplin, kepemimpinan, tanggung jawab, serta kemampuan bersosialisasi.
“Anak-anak ini tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter. Mereka diajarkan disiplin, kepemimpinan, dan rasa percaya diri. Inilah investasi terbaik untuk masa depan Kalimantan Timur dan Indonesia menuju Generasi Emas 2045,” jelasnya.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





