SAMARINDA – Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari 2026 tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan terus dimatangkan di Klenteng Thien Ie Kong yang beralamat di Jalan Yos Sudarso, nomor 21, Karang Mumus, Kecamatan Samarinda Ilir, Kota Samarinda.
Sejak memasuki area klenteng, suasana Imlek sudah begitu terasa. Dekorasi bernuansa merah menghiasi hampir seluruh sudut bangunan.
Lampion-lampion merah tampak berderet rapi di sepanjang halaman dan pintu masuk, menciptakan suasana hangat sekaligus sakral bagi umat yang datang untuk beribadah.
Di bagian altar utama, dupa-dupa mulai dibakar oleh umat yang datang berdoa. Asap dupa yang mengepul perlahan memenuhi ruangan, menghadirkan aroma khas yang menenangkan.
Dalam tradisi Tionghoa, dupa menjadi simbol penghormatan dan sarana menyampaikan doa kepada Tuhan serta para leluhur.
Setiap batang dupa yang dinyalakan mencerminkan harapan, rasa syukur, dan permohonan agar tahun yang baru membawa keselamatan serta keberuntungan.
Tidak hanya itu, sejumlah lilin merah berukuran besar sering disebut lilin raksasa atau lilin jumbo telah dipasang di sisi altar dan di depan pintu masuk klenteng.
Lilin-lilin itu bukan sekadar dekorasi, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Tionghoa.
Cahaya lilin melambangkan harapan agar kehidupan di tahun baru menjadi lebih terang. Api yang terus menyala dimaknai sebagai simbol kelancaran rezeki, kesuksesan usaha, serta perlindungan dari kesulitan dan kegelapan hidup.
Selain itu, lilin-lilin besar tersebut menjadi simbol doa dan harapan. spesifik doa yang dipanjatkan, seperti doa kesehatan, keselamatan, keharmonisan keluarga, hingga kelancaran usaha sepanjang tahun.
Salah satu umat, A Lie, warga sekitar kelenteng mengatakan persiapan Imlek selalu membawa suasana yang berbeda setiap tahunnya. Menurutnya Imlek bukan hanya tentang perayaan, tetapi momentum mempererat kebersamaan keluarga.
“Biasanya setelah sembahyang, kami berkumpul dengan keluarga. Ada juga saudara yang pulang dari luar kota untuk merayakan bersama di Samarinda,” ujarnya.
Ia menjelaskan tidak ada batasan khusus mengenai waktu ibadah selama perayaan Imlek. Umat dapat datang kapan saja untuk berdoa. Namun ada tanggal-tanggal tertentu yang menjadi momen puncak.
“Tidak ada batasannya. Tapi biasanya tanggal 1 dan tanggal 15 menurut kalender Tionghoa itu yang paling ramai. Itu hari puncaknya. Bisa sampai malam tanggal 16 atau 17 masih banyak yang datang,” jelasnya.
Selain ibadah, tradisi kuliner tidak terpisahkan dari perayaan Imlek. A Lie menyebut kue keranjang sebagai sajian yang paling khas.
Menurutnya kue keranjang biasanya dipesan khusus menjelang Imlek dan menjadi simbol manisnya harapan di tahun yang baru.
“Kue keranjang. Itu yang paling khas. Kalau umat Muslim identik dengan ketupat saat Lebaran, kalau kami kue keranjang,” ucapnya.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





