DENTINGAN alat musik sederhana, tabuhan ritmis, dan lantunan syair religi menggema di malam Ramadan di Samarinda Seberang. Suara itu terdengar hingga menjelang waktu Subuh, saat puluhan kelompok pemuda bergantian tampil dalam Festival Mattedu Subuh 2026.
Tradisi membangunkan sahur tersebut digelar oleh Komunitas Restiel Samarinda Seberang di kediaman pembina komunitas tersebut, Andi Saharuddin, di Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Sabtu (14/3/2026) malam.
Sejak pukul 21.00 Wita, satu per satu kelompok naik ke panggung sederhana untuk menampilkan kreasi musik sahur mereka. Tabuhan alat musik tradisional, botol, hingga peralatan dapur dipadukan dengan nyanyian bernuansa religi yang mengajak warga bangun untuk sahur.
Suasana festival pun terasa semarak. Tak hanya diikuti pemuda dari berbagai kelurahan di Kota Samarinda, kegiatan ini juga menarik peserta dari Kabupaten Kutai Kartanegara, seperti Sanga-Sanga dan Handil. Secara keseluruhan, sebanyak 48 tim berpartisipasi dalam festival tersebut.
Ketua panitia, Kaisar Fajri, mengatakan festival ini menjadi ajang menyalurkan kreativitas generasi muda sekaligus menjaga tradisi Ramadan yang mulai jarang ditemui di sejumlah daerah.
“Peserta tampil bergantian sejak pukul sembilan malam hingga menjelang Subuh. Mereka membawa berbagai alat musik dan konsep penampilan yang berbeda-beda,” ujar Kaisar.
Setiap tim berusaha tampil maksimal dengan memadukan irama musik, kekompakan tim, serta pesan-pesan keagamaan dalam penampilan mereka. Kreativitas menjadi salah satu poin utama dalam penilaian lomba.
Panitia menyiapkan sejumlah kategori juara, mulai dari juara 1 hingga 3, harapan 1 sampai 3, serta juara favorit. Total hadiah pembinaan yang diperebutkan mencapai lebih dari Rp10 juta.
Bagi Komunitas Restiel Samarinda Seberang, festival ini bukan sekadar perlombaan.
Ketua Restiel Samarinda Seberang, Surya, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang positif bagi generasi muda untuk berkumpul, berkarya, sekaligus mempererat kebersamaan selama bulan Ramadan.

“Kami ingin generasi muda memiliki wadah kegiatan yang positif. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menyalurkan kreativitas,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Anggota DPRD Kota Samarinda dari daerah pemilihan Samarinda Seberang, Andi Saharuddin. Ia mengapresiasi kolaborasi generasi muda dan tokoh masyarakat yang mampu menyelenggarakan kegiatan tersebut secara mandiri.
Menurut Andi, Komunitas Restiel sendiri telah berdiri sejak era 1990-an sebagai wadah pembinaan pemuda melalui berbagai kegiatan sosial, olahraga, hingga aktivitas keagamaan.
“Tujuannya agar anak-anak muda punya ruang kegiatan positif dan sekaligus menghapus stigma negatif terhadap mereka,” katanya.
Ia menjelaskan, istilah mattedu berasal dari bahasa Bugis yang berarti membangunkan orang untuk sahur. Dahulu, tradisi ini dilakukan secara sederhana dengan berjalan keliling kampung sambil menabuh alat-alat seadanya untuk membangunkan warga.
Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi festival yang menampilkan kreativitas musik sahur para pemuda.
Tradisi serupa juga hidup di sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur. Di Desa Loa Duri Ilir, Kabupaten Kutai Kartanegara, serta Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, masyarakat rutin menggelar pagelaran sahur selama Ramadan.
Kegiatan tersebut dikenal dengan Festival Ramadan atau Bedug Sahur, di mana para peserta memainkan bedug dan alat musik sahur sambil berkeliling kampung menggunakan mobil yang dihias dengan berbagai ornamen bertema Ramadan.
Mobil-mobil tersebut dipenuhi lampu warna-warni, miniatur masjid, hingga kaligrafi yang menarik perhatian warga yang menunggu waktu sahur.
Lebih dari sekadar tradisi, berbagai festival sahur ini menjadi ruang kreativitas generasi muda sekaligus sarana mempererat silaturahmi di tengah masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, tradisi membangunkan sahur yang diwariskan turun-temurun itu tetap hidup. Melalui kreativitas generasi muda, suara bedug dan musik sahur terus menggema di berbagai sudut Samarinda dan Kutai Kartanegara, menjaga semangat kebersamaan Ramadan di tengah masyarakat. (Tim MK)





