PAGI itu, Sangatta diselimuti udara yang segar. Jalan-jalan yang biasanya sepi kini mulai ramai. Masyarakat bisa melihat anak-anak berlari-lari kecil dengan sapu di tangan, diikuti orang tua membawa ember berisi air dan bunga tabur. Aroma tanah basah bercampur wangi bunga segar memenuhi udara. Setiap langkah menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) terasa seperti memasuki ruang di mana waktu berjalan lebih pelan, dan hati mulai tenang.
Di antara pusara, ada ketenangan yang tidak biasa. Doa-doa terdengar pelan, khidmat. Tidak ada tangisan berlebihan, hanya kesadaran bahwa hidup ini sementara. Bisa dibayangkan, masyarakat yang mendatangi pemakaman beramai-ramai menyapu makam keluarga, mencabut rumput liar, dan menaburkan bunga di atas pusara, di mana sebuah ritual sederhana namun sarat makna, menyiapkan hati untuk bulan suci yang akan datang.
Usai ziarah, tradisi berlanjut. Warga Sangatta menyebutnya Mbaca. Sebagian juga mengenalnya sebagai “megang puasa”, tradisi doa bersama yang dilakukan menjelang bulan suci.
Mbaca biasanya digelar di rumah keluarga. Tikar dibentangkan di ruang tamu, kerabat berdatangan, tetangga ikut bergabung. Suara tawa dan sapa saling bersahutan, tapi ketika bacaan tahlil dimulai, semuanya hening. Kalimat-kalimat doa mengalir pelan, menembus ruang dan hati, menciptakan suasana hangat yang membuat siapa pun merasa diterima.
Bagi warga, Mbaca bukan sekadar ritual keagamaan. Ini juga momen mempererat hubungan keluarga. Mereka yang jarang bertemu karena kesibukan, mendadak punya alasan untuk duduk bersama, saling menyapa, bahkan saling memaafkan.

Namun, tradisi Mbaca tidak lengkap tanpa hidangan wajibnya. Di tengah tikar, hamparan warna menanti: ketan pulut empat warna dengan telur ayam di atasnya, dan bubur merah putih. Putih, kuning, hijau, hitam, setiap warna punya cerita. Putih untuk kesucian hati, kuning untuk kemuliaan, hijau untuk ketenangan, hitam untuk keberanian. Bahan alami membuatnya semakin istimewa. Kunyit untuk kuning, pandan atau daun suji untuk hijau, ketan hitam untuk warna gelapnya. Bisa membayangkan tekstur lembut ketan di lidah, aroma harum yang membangkitkan selera, dan warna-warna yang memikat mata.
“Kalau Mbaca tapi tidak ada ketan pulut sama bubur merah putih, rasanya kurang. Itu memang wajib, dari dulu begitu,” cerita Rustam Yusuf, warga Sangatta kepada Media Kaltim.
Menurutnya, tradisi Mbaca bukan hanya soal makan bersama. Tapi menjadi bagian dari cara masyarakat mempersiapkan diri menyambut Ramadan. Mulai dari membersihkan makam keluarga lewat ziarah, hingga membersihkan hati lewat doa bersama.
“Biasanya setahun jarang kumpul. Tapi begitu mau puasa, semua datang. Kita ketemu, saling maafkan, saling doakan. Itu yang bikin hati lebih ringan,” katanya.
Sementara bubur merah putih juga menjadi hidangan yang tak kalah penting. Dua warna dalam satu sajian itu seolah menjadi pengingat bahwa kehidupan selalu berdampingan dengan dua sisi. Ada suka dan duka, ada ujian dan nikmat. Semua harus dijalani dengan hati yang kuat.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi Mbaca masih bertahan. Ia tidak sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi ruang berkumpulnya keluarga besar.
Ziarah menjadi cara warga menoleh ke belakang, mengingat leluhur dan keluarga yang telah pergi. Mbaca menjadi cara menata langkah ke depan, memulai Ramadan dengan harapan baru.
Dan di atas hamparan ketan empat warna serta bubur merah putih, warga Sangatta kembali merangkai doa: agar puasa dijalani dengan sehat, keluarga tetap rukun, dan Ramadan membawa keberkahan.
“Mbaca ini bukan cuma tradisi, tapi pengingat. Mau puasa itu harus siap lahir batin. Kita berdoa dulu, kumpul dulu, baru puasanya terasa lebih bermakna,” tutup Rustam Yusuf. (Tim MK)





