UMKM Tak Cukup Go Digital, Kini Harus Kuasai AI

BALIKPAPAN – Transformasi digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia memasuki babak baru. Jika beberapa tahun terakhir pemerintah fokus mendorong UMKM masuk ke ekosistem digital melalui marketplace dan media sosial, kini tantangan berikutnya adalah memastikan pelaku usaha mampu memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan daya saing.

Perubahan ini bukan tanpa alasan. Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat dan perkembangan teknologi yang bergerak cepat, UMKM dituntut tidak hanya mampu berjualan secara daring, tetapi juga memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, dan mempercepat proses bisnis.

Bagi pemerintah, penguasaan AI oleh UMKM bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional itu tidak tertinggal dalam revolusi digital yang sedang berlangsung.

Kesadaran itulah yang mendorong pemerintah melalui Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital untuk turun langsung ke berbagai daerah. Pendekatan yang dipilih bukan sekadar menjalankan program dari balik meja birokrasi, melainkan menyerap aspirasi pelaku usaha secara langsung guna memastikan kebijakan yang lahir benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.

Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital, Tiar Nabilla Karbala, mengungkapkan pihaknya bersama tim telah melakukan perjalanan dinas ke sekitar 25 kota dan kabupaten di berbagai wilayah Indonesia. Daerah yang dikunjungi mencakup Jawa Barat, Sumatera Selatan, Aceh, Yogyakarta, Jawa Timur hingga Kalimantan Timur.

“Pendekatan kami adalah turun langsung ke lapangan agar dapat menyerap aspirasi pelaku UMKM secara nyata,” ujarnya saat berdialog dengan pelaku UMKM di Balikpapan, Sabtu (6/6/2026).

Menurut Tiar, kunjungan ke daerah bukan agenda seremonial semata. Pemerintah ingin memperoleh gambaran langsung mengenai tantangan yang dihadapi UMKM, mulai dari akses pembiayaan, pemasaran, legalitas usaha, kualitas sumber daya manusia, hingga kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi digital.

Informasi yang diperoleh dari lapangan kemudian dirangkum dalam bentuk laporan dan memo yang disampaikan langsung kepada Presiden sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan nasional.

“Hasil dari kunjungan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk laporan atau memo yang disampaikan langsung kepada Presiden sebagai bahan pertimbangan kebijakan nasional,” jelasnya.

AI Menjadi Babak Baru Transformasi UMKM

Selama satu dekade terakhir, digitalisasi UMKM identik dengan pemanfaatan media sosial dan platform perdagangan elektronik. Namun perkembangan teknologi AI mengubah lanskap tersebut secara signifikan.

Kini, berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang dan biaya besar dapat dilakukan lebih cepat dengan bantuan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Mulai dari pembuatan desain promosi, penulisan konten pemasaran, analisis perilaku konsumen, pengelolaan media sosial, hingga pelayanan pelanggan dapat dilakukan secara lebih efisien.

Bagi UMKM yang selama ini memiliki keterbatasan sumber daya, AI berpotensi menjadi alat yang mampu memperkecil kesenjangan dengan perusahaan yang lebih besar.

Tiar menilai masih banyak pelaku usaha yang memandang AI sebagai teknologi rumit dan jauh dari aktivitas bisnis sehari-hari. Padahal, sebagian besar masyarakat sebenarnya telah menggunakan teknologi tersebut tanpa disadari.

“AI bukan lagi sesuatu yang jauh dari keseharian. Bahkan dalam hal sederhana seperti navigasi melalui Google Maps atau pembuatan konten promosi, teknologi ini sudah sangat membantu pelaku usaha,” tegasnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi ketersediaan teknologi, melainkan bagaimana meningkatkan literasi dan kemampuan pelaku usaha dalam memanfaatkannya secara optimal.

UMKM Menghadapi Persaingan yang Berubah

Transformasi digital saat ini terjadi ketika UMKM juga menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Pelemahan daya beli masyarakat, meningkatnya biaya produksi, hingga ketidakpastian ekonomi global memaksa pelaku usaha mencari cara baru untuk bertahan dan berkembang.

Dalam kondisi tersebut, teknologi menjadi salah satu instrumen yang dianggap mampu membantu UMKM meningkatkan produktivitas tanpa harus menambah biaya operasional secara signifikan.

Melalui AI, pelaku usaha dapat menghasilkan materi promosi dalam hitungan menit, menjangkau konsumen lebih luas melalui strategi pemasaran digital yang lebih terukur, hingga meningkatkan kualitas layanan pelanggan.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena pola konsumsi masyarakat juga berubah. Konsumen kini lebih banyak mencari informasi produk melalui platform digital sebelum memutuskan membeli. Artinya, UMKM yang mampu memanfaatkan teknologi memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pasar.

Namun di sisi lain, masih terdapat kesenjangan kemampuan digital di kalangan pelaku usaha, terutama UMKM skala mikro yang berada di daerah.

Keterbatasan akses internet, minimnya literasi digital, serta rendahnya pemahaman mengenai penggunaan teknologi masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan secara bertahap.
Kolaborasi Jadi Kunci

Menyadari kompleksitas persoalan tersebut, pemerintah tidak bergerak sendiri. Berbagai kementerian, lembaga, dan sektor swasta dilibatkan dalam mempercepat transformasi digital UMKM.
Tiar menjelaskan, kolaborasi dilakukan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kementerian UMKM, Smesco Indonesia, hingga perusahaan teknologi seperti Google.

Kerja sama tersebut difokuskan pada peningkatan literasi digital, perluasan akses internet, pelatihan pemanfaatan teknologi AI, serta penguatan ekosistem digital bagi pelaku usaha kecil.

“Kolaborasi ini difokuskan pada peningkatan literasi digital, penguatan akses jaringan internet, hingga pemanfaatan teknologi berbasis AI untuk mendukung usaha kecil,” katanya.

Pendekatan kolaboratif dinilai menjadi langkah penting karena transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut kesiapan sumber daya manusia dan perubahan pola pikir pelaku usaha.

Tanpa pendampingan yang memadai, kesenjangan antara UMKM yang mampu beradaptasi dengan teknologi dan yang tertinggal berpotensi semakin melebar.

Menentukan Masa Depan UMKM Indonesia

Kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional selama ini sangat besar. Sektor ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar sekaligus penopang aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah.
Karena itu, keberhasilan transformasi digital UMKM tidak hanya akan menentukan daya saing pelaku usaha, tetapi juga berpengaruh terhadap ketahanan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Pemerintah menilai penguasaan teknologi, termasuk AI, menjadi salah satu faktor penentu apakah UMKM Indonesia mampu naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas.

Di tengah derasnya arus digitalisasi global, pertaruhan sesungguhnya bukan lagi soal apakah UMKM akan menggunakan teknologi atau tidak. Pertanyaannya adalah seberapa cepat mereka mampu beradaptasi.

Sebab dalam ekonomi modern, mereka yang mampu memanfaatkan teknologi akan bergerak lebih cepat, menjangkau pasar lebih luas, dan bertahan lebih kuat menghadapi perubahan. Sementara mereka yang tertinggal berisiko semakin sulit bersaing di tengah pasar yang terus berkembang.

Dari Balikpapan, pesan itu disampaikan dengan jelas bahwa transformasi digital belum selesai. Bagi UMKM Indonesia, langkah berikutnya adalah memasuki era kecerdasan buatan. (MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI