SAMARINDA – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur menggelar Forum Energi Daerah 2025 di Hotel Mercure Samarinda, Kamis (16/10/2025). Forum tahunan tersebut menjadi ruang diskusi strategis untuk menakar arah dan kesiapan Kalimantan Timur dalam menghadapi tantangan transisi energi menuju masa depan yang berkelanjutan.
Mengangkat tema ‘Mencapai 79 Persen Bauran EBT di Tahun 2045, Realisasi atau Angan-angan? Memetakan Jalan Menuju Transisi Energi Berkeadilan di Kalimantan Timur’, kegiatan dibuka dengan laporan dari Ketua Panitia, Elly Luchritia Nova, selaku Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE).
Forum kemudian resmi dibuka oleh Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, menegaskan semangat besar Pemprov Kaltim dalam mengubah wajah energi daerah.
“Mencapai 79 persen bauran EBT di tahun 2045, pertanyaannya, apakah ini bisa direalisasikan atau hanya utopia?” ujar Bambang memantik semangat diskusi.
Menurutnya target tersebut bukan sekadar slogan. Kaltim menargetkan porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 79 persen pada tahun 2045, lebih tinggi dari target nasional yang hanya 70 persen. Capaian sementara saat ini baru berada di angka 12,14 persen.
“Kita meninggalkan cerita lama bahwa Kaltim 50 tahun lalu dikenal lewat energi fosil. Sekarang kita mulai bertransformasi ke energi non-fosil yang terbarukan,” tegas Bambang.
Namun, ia tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi. Struktur ekonomi daerah masih sangat bergantung pada sektor tambang dan migas. Selain itu, kebijakan EBT yang belum bersifat mandatory serta minimnya insentif bagi pelaku energi hijau menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi.
Forum tersebut diharapkan mampu mempertemukan para pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendorong kebijakan dan implementasi transisi energi yang adil dan realistis di Kalimantan Timur.
“Dampaknya memang dua sisi. Dari sisi lingkungan, tentu lebih baik dan berkelanjutan. Tapi dari sisi ekonomi, ada tantangan karena sektor fosil masih jadi penopang utama pendapatan daerah,” jelasnya.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





